Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 04:30 WIB
Israel Bebaskan Enam Anggota Parlemen Hamas
Taufiq Zuhdi | tof | Selasa, 3 November 2009 | 01:57 WIB
|
Share:

AFP
Asap tebal membumbung tinggi menyusul serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza, Januari 2009 lalu.

TERKAIT:

RAMALLAH,KOMPAS.com - Tentara Israel, Senin (2/11) membebaskan enam anggota parlemen Palestina dari gerakan Hamas yang ditahan sejak 2006 lalu pascapenangkapan seorang prajurit Israel oleh pejuang Gaza.

Sebelumnya, seorang anggota parlemen telah dibebaskan pada Minggu malam, sehingga jumlah anggota parlemen Hamas yang dibebaskan menjadi 31 termasuk ketua parlemen Aziz al-Dweik, yang dibebaskan Juni lalu.

Juru bicara otoritas penjara Israel mengatakan, keenam anggota parlemen itu dibebaskan pada Senin karena masa penahanan administratif mereka telah berakhir. Tidak satu pun dari anggota-anggota parlemen itu dikenai tuduhan.

Anggota parlemen yang ditahan itu adalah sebagian dari 60 wakil terpilih Hamas, yang mencakup menteri, anggota parlemen dan walikota yang ditangkap Israel dalam operasi penumpasan terhadap kelompok pejuang Islamis setelah penangkapan prajurit Israel, Gilad Shalit pada Juni 2006 oleh gerilyawan Gaza. Menurut beberapa warga orang Palestina, lima belas pejabat terpilih Hamas hingga kini masih ditahan.

Seorang anggota parlemen Hamas yang dibebaskan mengatakan, penahanan itu merupakan upaya Israel untuk mencegah parlemen bekerja. Penahanan itu tidak ada kaitannya dengan penangkapan Shalit.
       
"Ini mengonfirmasi apa yang kami katakan, bahwa operasi penangkapan itu pada dasarnya dimaksudkan untuk menyerang Dewan Legislatif (Palestina) dan bukan demi keamanan seperti yang dikatakan Israel," kata Mahmud al-Ramahi, anggota parlemen Hamas yang dibebaskan kepada kantor berita AFP.

Seperti diketahui, Hamas menang besar dalam pemilihan umum parlemen Palestina pada Januari 2006. Pada pesta demokrasi pertama itu, mereka memperoleh 74 kursi di parlemen dan mengalahkan kelompok dominan Fatah yang hanya mendapat 45 kursi.

Ketegangan antara kedua kubu Palestina yang bersaing itu kemudian berpuncak pada bentrokan mematikan di Jalur Gaza dua tahun lalu. Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.
       
Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel. Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah -- Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.

Pemerintah Mesir selama beberapa bulan ini berusaha membujuk Fatah dan Hamas agar menandatangani sebuah perjanjian persatuan nasional, namun kedua kubu Palestina yang bersaing itu berulang kali menunda penandatanganan tersebut.
       
Perang di dan sekitar Gaza meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember tahun lalu.
Israel membalas penembakan roket pejuang Palestina ke negara Yahudi tersebut dengan melancarkan gempuran udara besar-besaran dan serangan darat ke Gaza dalam perang tidak sebanding yang mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai penjuru dunia.

Operasi "Cast Lead" Israel itu, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang Palestina yang mencakup ratusan warga sipil dan menghancurkan sejumlah besar daerah di jalur pesisir tersebut, diklaim bertujuan mengakhiri penembakan roket dari Gaza. Militer Israel menyatakan, lebih dari 200 roket dan bom ditembakkan dari Jalur Gaza ke Israel sejak berakhirnya ofensif 22 hari negara Yahudi itu terhadap Hamas yang menguasai Gaza, pada Desember dan Januari.

Sumber :
ANT,AFP