KABUL, KOMPAS.com — Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Ban Ki-moon, Senin (2/11), terbang ke Kabul untuk menemui Presiden Hamid Karzai di tengah krisis pemilihan presiden (pilpres) Afganistan putaran kedua yang kini hanya punya satu kandidat.
Kunjungan Ban yang mengejutkan itu disertai tekanan diplomatik untuk menjamin agar pemilu, yang hanya akan diikuti satu calon pada 7 November itu, tidak dilakukan. Meski demikian, hal tersebut ditentang oleh beberapa pejabat yang mengatakan bahwa penghentian terhadap proses itu sudah sangat telat.
Kunjungan Ban ini terlaksana sehari setelah mantan Menteri Luar Negeri Abdullah Abdullah mengumumkan bahwa dia tidak ikut ambil bagian dalam pilpres pekan ini. Abdullah Abdullah khawatir, penyelewengan secara meluas yang menyudutkan pilpres putaran pertama akan terulang kembali.
Ban akan menemui keduanya, baik Karzai maupun Abdullah. Ia juga ingin menunjukkan rasa solidaritas kepada para stafnya setelah serangan bunuh diri Taliban terhadap wisma tamu staf PBB yang menelan banyak korban. "Sekjen Ban kini telah tiba di negara itu untuk menyatakan solidaritasnya terhadap petugas pria dan wanita PBB, setelah peristiwa tragis akhir pekan lalu," kata pernyataan PBB.
Menurut seorang juru bicara PBB, tidak ada detail mengenai hal-hal yang akan disampaikan Ban kepada kedua tokoh tersebut. Dia mengatakan, sulit membayangkan, bagaimana Afganistan bisa menyelenggarakan pilpres hanya dalam tempo lima hari, dan hanya diikuti oleh seorang kandidat.
Seorang diplomat senior Eropa mengatakan, ada kesulitan besar dalam menyelenggarakan pilpres seperti itu pada saat gerilyawan Taliban terus meningkatkan aksinya. "Kami sangat tahu bahwa dalam praktiknya, untuk pergi ke bilik pemungutan suara saja bisa berarti sesuatu yang mahal karena mereka kemungkinan akan kehilangan nyawa," katanya kepada AFP.
Komisi Pemilihan Independen (IEC), yang pejabat-pejabat tingginya dipilih oleh Karzai, mengatakan bahwa pilpres putaran kedua tetap akan dilangsungkan hari Sabtu. Menurut seorang juru bicara komisi tersebut, tenggat waktu bagi Abdullah untuk mundur telah lewat.
