JERUSALEM, KOMPAS.com-Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton, Sabtu, menyeru Iran untuk memenuhi kewajibannya atas program nuklir kontroversialnya, seraya memperingatkan Republik Islam itu bahwa "kesabaran ada batasnya".
"Pandangan kami adalah kami bersedia untuk bekerja menuju suatu hasil yang kreatif seperti pengapalan uranium keluar untuk diproses di luar Iran tapi kami tidak akan menunggu selamanya," kata Hillary di Jerusalem, dimana ia melakukan dialog dengan sejumlah pejabat Israel.
"Kesabaran memiliki batas dan ini adalah waktu bagi Iran untuk memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya kepada masyarakat internasional dan menerima kesepakatan akan menjadi awal yang baik,"ujarnya.
Negara-negara barat tengah menanti sebuah jawaban yang jelas dari Teheran atas kesepakatan nuklir yang ditengahi oleh badan pengawas atom PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Perancis telah mengatakan bahwa berdasarkan kesepakatan itu 1.200 kilogram LEU (uranium yang belum dikayakan) Iran akan dikapalkan ke luar negeri untuk diproses dan dikonversikan menjadi bahan bakar untuk reaktor penelitian Teheran.
Negara-negara barat mendukung kesepakatan itu karena reaktor itu akan diawasi oleh internasional dan kesepakatan itu bertujuan untuk memindahkan cadangan LEU (uranium yang belum dikayakan), sumber kecemasan utama barat yang mencurigai bahan yang telah dikayakan akan dapat diselewengkan menjadi senjata nuklir.
Israel, satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki nuklir sekalipun tidak mengakuinya, dan musuh lama Iran, mendukung kesepakatan PBB itu. IAEA telah mengonfirmasi bahwa Teheran telah memberi jawaban "awal" atas kesepakatn itu, namun pada Jumat malam kantor berita negeri itu IRNA melaporkan bahwa jawaban Iran adalah "bukan suatu jawaban" atas kesepakatan itu dan menginginkan perundingan lebih lanjut.
Pada Jumat, juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs memperingatkan bahwa presiden AS Barack Obama tidak akan menunggu selamanya untuk jawaban Iran. "Waktu presiden bukan tanpa batas, ini bukan bertemu demi pertemuan, ini adalah mengenai pencapaian suatu kesepakatan yang hanya beberapa pekan lalu tampak seperti sesuatu yang diinginkan oleh Iran," katanya. Para anggota parlemen Iran tampaknya menentang kesepakatan itu.
