PESHAWAR, KOMPAS.com - Satu bom menewaskan tujuh prajurit Pakistan dan melukai 11 orang lagi, Sabtu (31/10), kata beberapa pejabat setelah Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton memperingatkan Al-Qaeda "berada di jantung" ancaman teror di negeri tersebut.
"Tujuh prajurit paramiliter tewas dan 11 orang lagi cedera dalam serangan bom yang dikendalikan dari jauh," kata Shafirullah Khan, pejabat tinggi pemerintah di kabupaten suku di Khyber, bagian barat-laut Pakistan melalui telepon.
Korps Perbatasan belakangan mengeluarkan pernyataan yang mengkonfirmasi bahwa tujuh anggotanya telah gugur. Korps tersebut menyebutkan nama prajurit yang tewas itu dan mengatakan mereka tewas akibat ledakan bom rakitan.
Beberapa pejabat militer dan keamanan di kota Peshawar, yang berdekatan, mengatakan dua kendaraan yang membawa pasokan buta tentara Pakistan rusak dalam ledakan tersebut, yang terjadi sekitar 15 kilometer di sebelah barat Peshawar.
Militer melancarkan serangan di Khyber, tempat jalur Khyber ke dalam wilayah Afganistan, yang bertetangga, pada 1 September, setelah seorang pengebom bunuh diri meledakkan dirinya di dekat satu pos perbatasan. Serangan itu menewaskan 22 personil polisi.
Sabuk suku semi-otonomi di bagian barat-laut Pakistan telah menjadi kubu bagi kelompok garis keras yang melarikan diri dari Afganistan setelah serbuan pimpinan AS menggulingkan faksi santri Taliban di sana pada penghujung 2001.
Para pejabat pada Sabtu menuduh gerilyawan setempat sebagai pelaku serangan terhadap tentara. Mereka tak menyebutkan kelompok tertentu, tapi Lashkar-e-Islam adalah kelompok utama yang berperang di daerah tersebut. Para pejabat Sabtu menuduh kelompok garis keras setempat sebagai pelaku serangan terhadap personil militer tersebut.
Kelompok itu memiliki hubungan dengan Taliban Pakistan, yang bermarkas lebih ke selatan di kabupaten semi-otonomi Waziristan Selatan, tempat pasukan pemerintah pada 17 Oktober memulai serangan besar terpisah dengan tujuan menggusur "para pelaku teror".
Sebanyak 30.000 prajurit ikut dalam aksi di Waziristan Selatan terhadap sebanyak 10.000-12.000 anggota kelompok garis keras.
Petugas bantuan mengatakan lebih dari 200.000 orang telah kehilangan tempat tinggal akibat pertempuran.
