NEW YORK,KOMPAS.com — Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengingatkan agar para pegawai di lingkungan lembaga dunia tersebut meningkatkan kewaspadaan dan saling membantu berkaitan dengan semakin meningkatnya serangan menjelang pemilu di Afganistan.
"Kami tidak bisa melakukannya sendirian," kata Ban Ki-moon dalam pertemuan di Dewan Keamanan PBB menyikapi serangan bom bunuh diri oleh pejuang Taliban di rumah perwakilan PBB di Kabul, Rabu (28/10). Kejadian itu sedikitnya menewaskan lima orang dan sembila luka-luka.
"Kami membutuhkan dukungan dari negara-negara anggota," katanya kepada sejumlah diplomat dari negara-negara besar itu.
Menurut Ban, sepekan menjelang pemilu di Afganistan, yakni 7 November, para staf PBB menghadapi ancaman yang semakin meningkat. Mereka telah dijadikan sasaran oleh pejuang Taliban. "Peningkatan ancaman terhadap PBB ini karena kami mendukung terselenggaranya pemilu di Afganistan," ujar Ban.
Dewan Keamanan menyatakan akan memberi dukungan yang kuat kepada sekjen dan mereka memastikan misi PBB untuk membantu terselenggaranya pemilu di negara itu tidak boleh gagal.
Taliban memang mengancam akan mengganggu jalannya pemilu itu yang mereka sebut sebagai respons atas terjadinya kecurangan yang besar dalam putaran pertama. "Kami akan terus meningkatkan serangan pada hari-hari mendatang. Kami akan ganggu pemilu," ungkap Yousuf Ahmadi, juru bicara Taliban, kepada AFP.
"Kami juga telah memiliki rencana baru dan taktik untuk menggagalkan pemilu," katanya.
Sekjen PBB menyatakan, dibutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk mengamankan pemilu, termasuk menjaga keamanan perusahaan-perusahaan negara. Dia memuji partisipasi warga setempat yang Rabu lalu berusaha membantu menahan serangan Taliban di Kabul.
Ban mengatakan, dia telah berbicara dengan Presiden Hamid Karzai dan memintanya mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan. Seperti diketahui, lebih dari 100.000 tentara asing di Afganistan bertempur melawan Taliban, dan Presiden AS Barack Obama tengah mempertimbangkan memenuhi permintaan Jenderal Stanley McChrystal untuk menambah pasukan lagi.
