Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 07:01 WIB
Pulang Perang, Tentara Inggris Sakit Jiwa
Taufiq Zuhdi | tof | Jumat, 30 Oktober 2009 | 08:18 WIB
|
Share:

AFP
Pasukan Inggris dari Batalyon The Royal Welsh bersama pasukan AS dari Kompi Bravo 1-58 menggeledah dusun Biabanak untuk memburu milisi Taliban di provinsi Kandahar, sekitar 400 kilometer barat daya Kabul.

TERKAIT:

LONDON,KOMPAS.com- Para tentara Inggris yang pulang dari tugasnya di kawasan konflik Irak dan Afganistan kini dihinggapi masalah serius. Mereka kecanduan alkohol dan mengalami gangguan jiwa . Demikian ungkap sebuah peneliti setempat, Jumat(30/10).

Sebuah studi oleh ahli kejiwaan setempat menemukan lebih dari 27 persen para tentara tersebut mengalami gangguan mental, dan sekitar lima persennya mengalami tekanan jiwa akibat trauma selama perang.

Peneliti Pusat Kesehatan Militer King's Center pada Institut Ilmu Kejiwaan di London, Amy Inversen menyatakan, dibutuhkan sebuah kebijakan dan perencana kesehatan yang tepat khususnya bagi mereka yang masih aktif. "Penyalahgunaan alkohol dan gangguan jiwa harus menjadi perhatian utama selama pendidikan, selain juga pentingnya pencegahan dan intervensi," tulisnya dalam studi tersebut.

Pejabat senior militer Inggris menuduh pemerintah telah gagal dalam upaya mengatasi trauma mental yang diderita para tentara setelah berperang di Irak dan Afganistan, di mana jumlahnya mencapai sekira 170.000 sejak diberangkatkan 2001 lalu. "Dalam persepsi kami, trauma adalah sumber dari tekanan jiwa masing-masing pribadi, namun penyalahgunaan alkohol dan tekanan jiwa telah menjadi dampak umum yang kini terjadi," katanya.

Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal BioMed Central Psychiatry, menganalisa 821 personel militer untuk melihat bagaimana mereka mengatasi gangguan mental dan stres pascatrauma tersebut. Para peneliti di Pusat Nasional untuk Gangguan Jiwa menggunakan empat faktor untuk mengukur gejala-hejala yang terjadi. Yakni mengingatkan lagi memori peristiwa yang terjadi, menghindari situasi yang membawa ingatan pada kejadian saat itu, melihat emosi dan kesadaran.

Di antara masalah tersebut, problem utama yang terjadi, penyalahgunaan alkohol (18 persen) dan depresi (13,5 persen). Peneliti juga mengatakan, mereka yang bertugas di Irak memiliki risiko gangguan jiwa lebih tinggi daripada personil reguler.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada Maret juga menunjukkan, pria Inggris yang telah meninggalkan militer, berpotensi tiga kali lebih besar untuk bunuh diri daripada warga kebanyakan. Sedangkan studi di AS pada 2007 menemukan, para veteran militer pria di negara ini berpotensi bunuh diri dua kali lebih besar dari mereka yang tak pernah berada di militer.

Sumber :
Reuters
Rabu, 23/05/2012 14:13 WIB

Yaman di Ambang Krisis Pangan

Rabu, 23/05/2012 10:47 WIB

Sepertiga Obat Malaria di Dunia Palsu