KHAR, KOMPAS.com - Gerilyawan Taliban yang bersenjatakan roket dan senapan menyerang sebuah pos pemeriksaan militer di kawasan suku Pakistan, menewaskan empat prajurit, kata beberapa pejabat pemerintah dan keamanan, Senin (26/10).
Serangan terhadap pos Matak di daerah Charmang, distrik Bajaur, dekat perbatasan Afganistan, itu dilakukan oleh sekitar 20 militan pada tengah malam, kata mereka. "Pertama mereka meluncurkan sejumlah roket dan kemudian mendekati pos itu dan melepaskan tembakan dengan senapan otomatis," kata pejabat pemerintah daerah Ghulam Saidullah kepada AFP melalui telepon.
Empat aparat keamanan tewas dan dua lain terluka dalam serangan mendadak itu, tambahnya. Pejabat-pejabat keamanan mengatakan, pasukan membalas serangan itu, menewaskan enam militan Taliban dan melukai empat orang lain.
Militan akhir-akhir ini meningkatkan kegiatan di Bajaur, satu dari tujuh daerah suku yang berada di bawah pemerintah federal Pakistan (FATA) di sepanjang perbatasan dengan Afganistan, yang dianggap sebagai markas gerilyawan Taliban dan Al-Qaeda.
Beberapa analis memperingatkan bahwa Taliban dan sekutu mereka akan meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan di Bajaur dan tempat lain lagi untuk mengalihkan fokus perhatian dari Waziristan Selatan, yang sedang digempur pasukan darat Pakistan.
Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.
Menurut militer, lebih dari 1.500 militan tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus tahun lalu, termasuk komandan operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir. Pada Februari, militer mengklaim telah membersihkan daerah itu, namun kekerasan terus berlangsung. Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.
Terdapat sekitar 70.000 pengungsi Afganistan di Bajaur, yang tinggal di sana sejak akhir 1970-an setelah mereka melarikan diri dari invasi Uni Sovyet ke Afghanistan.
Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan itu digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.
Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.
Sebanyak 3.000 prajurit Pakistan kini mengambil bagian dalam ofensif terhadap sekitar 10.000 hingga 12.000 militan di kawasan suku semi-otonomi yang dilanda kekacauan. Pekerja-pekerja bantuan mengatakan, lebih dari 120.000 orang mengungsi akibat pertempuran itu.
Militan yang terkait dengan Taliban dan Al-Qaeda selama dua tahun ini melancarkan serangan-serangan bom bunuh diri dan penyerbuan komando yag menewaskan 2.280 orang. Gelombang serangan yang dimulai pada awal bulan ini telah menewaskan lebih dari 185 orang.
