Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 08:29 WIB
AS Pertimbangan Perundingan Langsung dengan Korut
Josephus Primus | primus | Sabtu, 24 Oktober 2009 | 14:54 WIB
|
Share:

AP photo/Ahn Young-joon
Model rudal Scub-B Korea Utara dan rudal lain milik Korea Selatan dipajang di Museum Peringatan Perang Korea, di Seoul, Korsel.

TERKAIT:

WASHINGTON, KOMPAS.com - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sedang mempertimbangkan pertemuan langsung yang jarang terjadi dengan seorang utusan Korea Utara yang sedang berkunjung ke AS. Pertemuan bakal mencuatkan harapan kemajuan atas perundingan nuklir yang macet.
   
Juru Bicara Deplu Ian Kelly, Jumat (24/10) malam mengatakan, belum ada keputusan yang telah diambil tentang siapa yang akan bertemu dengan Ri Gun, perunding senior nuklir Korea Utara yang dilaporkan tiba di New York, untuk kunjungan selama beberapa hari.
   
Namun, Kelly mengatakan, pertemuan antara Ri dan utusan khusus AS untuk perundingan perlucutan senjata nuklir Korea Utara, Sung Kim, belum diputuskan. "Saya bukan meniadakan hal itu. Saya tak punya sesuatu untuk diumumkan mengenai masalah tersebut, namun saya pasti tidak akan menyepelekan," ujarnya.
   
Kantor berita Korea Selatan Yonhap melaporkan, bahwa Ri tiba di New York Jumat. Dia juga diduga akan berkunjung ke San Diego Senin, untuk melakukan pertemuan tak resmi secara tertutup mengenai sengketa nuklir, kata direktur acara itu Susan Shirk kepada AFP.
   
Kelly mengindikasikan, bahwa pihaknya belum memutuskan siapa penjabat AS yang akan hadir dalam pertemuan itu.
   
Kunjungan Ri yang jarang mengobarkan spekulasi bahwa Korea Utara sedang menyiapkan diri untuk kembali ke perundingan enam negara, mengenai program senjata nuklirnya.
   
Pada Senin, Kurt Campbell, asisten menteri luar negeri AS untuk urusan Asia Timur, mengatakan bahwa AS siap untuk bertemu satu demi satu dengan pemimpin Korea Utara, namun hanya jika pertemuan itu mempercepat pelaksanaan perundingan perlucutan nuklir enam negara.
   
Korea Utara pada April lalu menyatakan keluar dari forum enam negara, dan membatalkan perjanjian-perjanjian setelah PBB mengecam uji coba peluncuran roket jarak jauhnya. Negara komunis itu kemudian juga melakukan uji coba bom atomnya.
   
Namun pada 6 Oktober, pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il mengatakan kepada para utusan China, bahwa Korea Utara bersedia kembali ke perundingan enam negara. Namun meminta dengan tegas bahwa perundingan langsung pertama dengan AS itu akan memperbaiki hubungan permusuhan mereka.
   
Campbell, yang belum lama ini mengatakan di Beijing bahwa AS juga ’akan mempersiapkan diri untuk berunding dengan Korea Utara, ’yang akan mempercepat perundingan  enam negara. Perundingan-perundingan enam negara melibatkan China, Jepang, kedua Korea, Rusia, dan AS.
   
Laporan-laporan yang memungkinkan perubahan diplomatik terjadi setelah para pejabat terkemuka AS mengeluarkan kata-kata keras kepada Pyongyang.
   
Pada Kamis lalu, Menteri Pertahanan AS Robert Gates, yang sedang berkunjung ke Korea Selatan, menuduh Korea Utara sebagai ancaman berat bagi perdamaian internasional, dan berjanji untuk terus melindungi sekutu-sekutu Washington di kawasan ini, berdasarkan kesepakatan ’payung nuklir.’
   
Sementara itu Menlu AS Hillary Clinton memperingatkan dari Washington Rabu, bahwa AS akan tidak pernah mempunyai ’hubungan normal dan bebas sanksi’ dengan Korea Utara serta menuntut Pyongyang dengan sepenuhnya melakukan perlucutan senjata nuklir.
   

Sumber :
Ant