NEW YORK, KOMPAS.com — Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Vitit Muntarbhorn, Jumat (23/10), mengatakan, kondisi pangan di Korea Utara sangat mengkhawatirkan. Bantuan dari lembaga Program Pangan Dunia (WFP) hanya mampu memenuhi sepertiga dari penduduk yang kelaparan di negara tersebut. Hal itu berarti bantuan internasional tersebut hanya mampu menjangkau 2 juta orang. Muntarbhorn memberikan laporan tahunan dalam pertemuan yang dihadiri oleh 192 negara anggota.
Dia juga mengatakan, perempuan dalam kondisi khusus mengalami penderitaan karena mendapat pembatasan dalam memenuhi haknya untuk bekerja.
Selain itu, dia juga menggambarkan kondisi penjara yang disebutnya seperti api penyucian bagi para tahanan.
Muntarbhorn mengatakan kepada PBB bahwa kondisi di sana awalnya masih bisa dibantu hingga pertengahan tahun lalu.
Pada waktu tersebut WFP setidaknya mempunyai akses ke lebih banyak wilayah daripada sebelumnya. Lagipula, bantuan juga bisa mencapai sekitar enam juta orang yang membutuhkan.
Namun, pada pertengahan 2009 hanya sedikit bantuan internasional yang bisa masuk ke wilayah tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh adanya reaksi keras saat Korut melakukan uji coba nuklir dan peluru kendali. Akibatnya, WFP hanya mampu membantu sekitar 2 juta orang di negara tersebut.
Saat ini otoritas negara tersebut sedang berencana untuk meningkatkan pembatasan terhadap bantuan asing ke negara tersebut.


