Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 06:26 WIB
Karzai Curang, Pemilu Presiden Harus Diulang
| jimbon | Rabu, 21 Oktober 2009 | 06:06 WIB
|
Share:
 

KABUL, KOMPAS.com - Presiden Afganistan Hamid Karzai yang dituduh melakukan banyak kecurangan menerima hasil akhir pemilihan umum presiden Afganistan yang diumumkan Komisi Pemilu Independen, Selasa (20/10) di Kabul. Pada pemilu 20 Agustus lalu, Karzai hanya meraih 49,67 persen suara, atau di bawah 50 persen.

Hal itu membuat pemilu putaran kedua harus dilakukan, sebagaimana dikatakan Noor Mohammad Noor, juru bicara Komisi Pemilu Independen. Sebelumnya disebutkan Karzai meraih suara di atas 50 persen dan tidak perlu lagi dilakukan pemilu kedua. Namun, penelitian PBB menunjukkan ada banyak kecurangan yang dilakukan kubu Karzai. Lebih dari satu juta suara atau seperempat dari keseluruhan kertas suara sah dinyatakan batal.

Hadapi Abdullah

Karzai akan menghadapi rival utamanya, Abdullah Abdullah, dalam pemilu putaran kedua. Abdullah adalah mantan Menteri Luar Negeri Afganistan.

Penelitian kembali keabsahan suara dilakukan setelah berminggu-minggu kontroversi soal pemilu. Hal ini mengganggu upaya Barat menghadapi perlawanan Taliban yang semakin sengit.

Selain melalui pemilu putaran kedua, skenario lain juga dimungkinkan, yaitu perundingan pembagian kekuasaan antara Karzai dan Abdullah dengan membentuk sebuah pemerintahan persatuan.

Namun, Ketua Komisi Pemilu Independen Azizullah Lodin mengatakan, pemilu putaran kedua harus dijalankan pada 7 November. Karzai juga menerima keputusan itu.

”Kita tidak ingin masyarakat menghadapi ketidakpastian lebih lama lagi,” kata Lodin.

Lodin menambahkan, semua persiapan sudah matang untuk pelaksanaan pemilu putaran kedua.

Senator AS, John Forbes Kerry, yang sedang berkunjung ke Kabul, memuji sikap Karzai. ”Dia memperlihatkan sikap sebagai seorang pemimpin yang jujur. Ini membuat semakin baiknya jalan menuju demokrasi di Afganistan,” kata Kerry. (AFP/Reuters/OKI)

Sumber :
Kompas Cetak
Rabu, 23/05/2012 14:13 WIB

Yaman di Ambang Krisis Pangan

Rabu, 23/05/2012 10:47 WIB

Sepertiga Obat Malaria di Dunia Palsu