MAUMERE, KOMPAS.com - Sebanyak 27 warga negara asing yang diduga imigran gelap diperiksa penyidik Kepolisian Resor Sikka, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam pemeriksaan itu salah seorang di antaranya, Ali Khapam Hkhani, warga negara Australia asal Iran ditahan.
Ali ditahan sebab tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian termasuk visa dan paspor. Alasannya hilang di Jakarta. Tapi anehnya dia bersama rombongan yang lain bisa sampai di Denpasar hingga Maumere. "Ali berjanji akan mengirim salinan paspor melalui faks, tapi kami membutuhkan dokumen yang asli," kata Kepala Polres Sikka Ajun Komisaris Besar Agus Suryatno, Minggu (18/10), di Sikka.
Dari 27 orang yang diperiksa, 23 orang di antaranya berasal dari Iran, sedangkan 4 orang dari Irak. Rombongan ini juga membawa tiga anak-anak. Total jumlah rombongan adalah 30 orang (dewasa). Namun tiga orang sudah lebih dulu ke kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur.
Mereka tiba hari Jumat (16/10) sore, di Bandar Udara Waioti Maumere, dan berencana hendak langsung ke Flotim dengan menyewa bus penumpang umum. Namun ketika hendak diperiksa kelengkapan dokumen oleh polisi, mereka menghindar.
Mereka langsung meminta sopir bus berbelok ke Hotel Permata Sari, di Jalan Achmad Yani, Maumere, yang terletak di pertigaan jalan, 500 meter sebelum bandara. Sementara begitu Ali ditahan Sabtu (17/10) sore, rombongan yang lain beramai-ramai menyusul ke markas polres.
"Yang tambah mencurigakan, mengapa ketika mereka hendak diperiksa anggota (polisi) malah menghindar. Diduga mereka akan ke Larantuka, di sana sudah disiapkan kapal untuk membawa mereka ke Pulau Babi lalu bergerak ke Australia. Kami telah berkoordinasi dengan Polres Flotim untuk menyelidiki nelayan setempat yang menyewakan kapalnya," kata Agus.
Agus juga menjelaskan, kecurigaan polisi makin tinggi terhadap rombongan ini sebagai imigran gelap, sebab dari Denpasar hingga Sikka rombongan itu tidak didampingi pemandu dari biro perjalanan dan wisata. Ketika ditanya siapa yang memandu di Denpasar, mereka juga mengaku tidak tahu, sebab hanya mengenal sekali di tempat.
"Pihak kepolisian Australia di Jakarta dan Denpasar sudah mengontak ke sini, mereka meminta supaya rombongan ini didata semua nomor paspor mereka untuk dicek, apakah mereka memang akan masuk ke sana (Australia)," kata Agus.
Sementara itu Wakil Kepala Polres Sikka Komisaris Eko Wagiyanto yang turut memantau di lapangan ketika rombongan tersebut bermalam di kantor polisi sejak Sabtu mengatakan, rombongan ini diduga berupaya mengecoh pihak berwajib dengan menggunakan dokumen resmi. Begitu sampai di Australia, mereka tidak mau kembali lagi ke negaranya.
Mereka mengaku dari negaranya ke Maumere telah menyetor uang ke Ali sebesar 2.000 dolar AS untuk biaya perjalanan. Peran Ali dimungkinkan sebagai perantara. Diperkirakan ongkos mereka untuk sampai Australia sekitar 20.000 dolar AS atau sekitar Rp 200 juta, yang akan disetorkan ke Ali lewat rekening bank begitu mereka sampai di sana, kata Eko.
Penyidik Polres Sikka kemarin juga masih memeriksa Adrianus Loe, warga Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Adrianus menjemput rombongan asal Iran dan Irak itu di Bandara Waioti.
Menurut Agus, dari hasil pemeriksaan ternyata 26 orang memiliki dokumen keimigrasian yang sah, sehingga mereka dipersilakan melanjutkan perjalanan. Mereka akhirnya meninggalkan markas polres Minggu pagi, pukul 07.30 wita, melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) lewat jalur darat.
Di sisi lain, saat Ali ditahan, sejumlah rombongan sempat memprotes, menuntut Ali dibebaskan. Mereka bersikeras bahwa mereka memiliki suat-surat yang sah dengan visa kunjungan sebagai turis.Karena penahanan Ali itu, sebagian yang lain memutuskan kembali saja ke negaranya.
Pemeriksaan terhadap 27 orang Iran dan Irak itu dilakukan setelah Kepolisian Daerah (Polda) NTT memberikan data dan informasi menyangkut kedatangan imigran gelap tujuan Australia yang berangkat melewati Kabupaten Rote Ndao. Jajaran polres di NTT diminta untuk waspada.
Sementara, begitu mendapat laporan penahanan Ali, sejumlah personil dari Pengamanan Orang Asing Direktorat Intelijen dan Keamanan (Intelkam), dan Satuan Tugas People Smuggling Direktorat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polda NTT di Kupang turun langsung ke Sikka kemarin.


