KOMPAS.com - Dua teknisi perang militer AS tengah dalam perburuan bom tepi jalan pada 24 Agustus lalu di Howz-e-Madad, sebelah barat Provinsi Kandahar, Afganistan. Dari dalam kendaraan lapis baja yang mereka kendarai, mereka melihat sebuah bom rakitan (improvised explosive device Sebuah wadah plastik berwarna kuning dengan kabel berjuntaian keluar ditanam di sebuah jalur di tepi jalan, di seberang sebuah gubuk. ”Kami melihatnya dan menyusun pengamanan untuk menetralkannya,” kata Michael Lawson, spesialis bahan peledak, kepada kantor berita AFP, Jumat (16/10). Murah, sulit dideteksi, dan mematikan. Itulah IED yang telah menjadi senjata pilihan kelompok Taliban melawan tentara asing dan pasukan Pemerintah Pakistan. Diperkirakan, IED menyebabkan tiga perempat kematian di pihak tentara asing. Situs globalsecurity.org menyebutkan, sebuah IED hampir bisa berasal dari apa saja dengan sembarang jenis material dan pemicu. IED adalah alat rakitan yang didesain untuk menyebabkan kematian dengan menggunakan bahan peledak saja atau kombinasi bahan peledak dengan bahan kimia beracun, bahan biologi beracun, dan material radiologis. Ukuran, metode fungsi, wadah, dan cara peledakannya bisa bermacam-macam. Yang unik adalah pembuat IED harus berimprovisasi dengan bahan-bahan yang dimilikinya. Sebuah laporan di situs surat kabar The Washington Times menyebutkan, kelompok Taliban telah membuat IED yang lebih sederhana dan lebih murah dengan komponen nonlogam yang lebih sulit dideteksi, seperti plastik. Pengalihan dari bom yang Perubahan dari bahan peledak berbahan logam menjadi berbahan plastik menyulitkan bagi tentara asing untuk mendeteksi IED yang dikubur dengan pendeteksi ranjau. Sebuah laporan rahasia tentang IED di Pentagon menyebutkan, tentara patroli di area sekitar Now Zad, Kandahar, menghadapi ancaman konstan dari IED tersembunyi. ”Meskipun Taliban masih menggunakan senjata kecil
