BRUSSEL, KOMPAS.com - NATO, Rabu (14/10), menyambut baik tawaran Inggris untuk mengirim pasukan tambahan ke Afganistan dan menggemakan lagi seruan Perdana Menteri Gordon Brown agar negara-negara sekutu mengirim pasukan tambahan. "Kita bisa melihat unsur-unsur yang bergema sangat keras di markas besar NATO," kata jurubicara James Appathurai, khususnya penekanan Inggris agar upaya-upaya dipusatkan pada pelatihan militer dan polisi Afganistan.
Inggris menjanjikan 500 prajurit tambahan ke Afganistan dan Brown mendesak negara-negara sekutu berbuat lebih banyak. "Setiap orang pasti sepakat bahwa jika mereka merupakan bagian dari koalisi, mereka harus menanggung beban," katanya.
Pengumuman itu, yang akan membuat jumlah pasukan Inggris di Afganistan menjadi 9.500, disampaikan ketika Presiden AS Barack Obama mempertimbangkan permintaan bagi penambahan 60.000 prajurit yang diajukan oleh Jendral Stanley McChrystal, panglima tinggi pasukan AS dan NATO di Afganistan. "Semua sekutu NATO harus mengkaji lebih lanjut apa yang bisa mereka berikan," kata Appathurai kepada wartawan di Brussel.
"Itu dilakukan tidak saja oleh satu atau dua negara," katanya, dengan menambahkan bahwa penting "mengkaji tindakan lebih lanjut apa yang bisa mereka lakukan saat ini, sehingga nantinya tidak terlalu memikirkan banyak hal".
Enam tahun setelah memimpin komando atas Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) di Afganistan, negara-negara NATO masih berusaha mengendalikan pemberontakan yang dilakukan oleh milisi Taliban, Al-Qaeda, dan kelompok kriminal.
Di tengah meningkatnya korban-korban sipil dan militer di Afganistan, opini publik berubah menjadi menentang operasi itu, yang merupakan misi NATO yang terbesar dan paling ambisius.
McChrystal, panglima pasukan ISAF, merekomendasikan strategi baru untuk mengatasi pemberontak, dengan melindungi rakyat Afganistan sebagai pilar pusatnya, dan mendesak penambahan sumber daya untuk melaksanakan misi tersebut.
Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afganistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.
Terdapat lebih dari 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afganistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.
Lebih dari 300 prajurit asing tewas sejak Januari, yang menjadikan 2009 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.
