JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menolak seluruh penawaran pembelian surat berharga syariah negara (sukuk) ritel pada lelang perdana, Selasa (13/10) ini. Dalam lelang ini, pemerintah menawarkan dua seri sukuk ritel yaitu IFR003 dan IFR004 dengan target indikatif Rp 1,5 triliun. "Sesuai dengan UU nomer 19/2008 tentang SBSN (Surat Berharga Syariah Negara), Menkeu dalam hal ini Dirjen Pengelolaan Utang menetapkan tidak ada penawaran yang dimenangkan untuk lelang perdana dua seri itu," kata Direktur Pembiayaan Syariah, Ditjen Pengelolaan Utang, Depkeu, Dahlan Siamat, di kantornya, Jakarta.
Dahlan mengatakan sebenarnya banyak penawaran yang masuk dalam lelang tersebut. Untuk seri IFR003 sebesar Rp 1,572 triliun dan sebesar Rp 3,510 triliun untuk seri IFR004. Adapun penawaran pembelian kompetitif untuk seri IFR003 sebesar Rp 1,46 triliun dan untuk seri IFR004 sebesar Rp 3,406 triliun. Penawaran pembelian non kompetitif sebesar Rp 106 miliar untuk seri IFR003 dan sebesar Rp 108 miliar untuk seri IFR004.
Kemudian untuk imbalan (yield)terendah sebesar 9,75 persen untuk seri IFR003 dan sebesar 10,5 persen untuk seri IFR004. Adapun untuk yield tertinggi pada seri IFR003 sebesar 11,5 persen dan sebesar 12 persen untuk seri IFR004.
Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto mengatakan ditolaknya penawaran tersebut dikarenakan yield yang disampaikan lebih tinggi dari estimasi pemerintah. "Estimasi kita buat dengan memakai berbagai pertimbangan dengan memakai data riil di pasar dan outlook sehingga estimasi itu betul-betul mencerminkan yield pasar yang wajar. kalau penawaran itu diatas benchmark yield kita," ujarnya.
Di samping itu, menurutnya, pemerintah juga masih mempunyai variasi instrumen lain yang lebih cost efisien, baik jangka panjang dan jangka pendek. Kendati memutuskan untuk menolak penawaran dalam lelang ini, namun pemerintah optimististis dapat mencapai target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) hingga akhir tahun 2009 ini. "Saat ini dalam pencapaian target penerbitan SBN sudah 92 persen. Kalau diasumsikan 1 bulan kita lelang 2 kali, peluang kita masih sangat besar untuk mengejar target gross tahun ini," jelasnya.
