KOMPAS.com — Dia tidak mau diidentifikasi, kecuali dengan nama samarannya Sze. Suatu periode pada masa lalunya terselebung rahasia. Ayahnya tidak tahu apa yang dilakukan gadis ini saat dia berusia 16 tahun, dan dia berharap ayahnya tidak akan pernah tahu tentang hal itu.
Namun Sze, sekarang 19 tahun, ingin para gadis belia mendengar kisahnya sehingga mereka tidak melakukan kesalahan yang sama.
"Pelanggan saya yang pertama seorang pria biasa, berusia 40-an tahun. Kami melewatkan bagian makan malam dan langsung pergi ke guest house untuk kencan," kenang Sze.
"Sesungguhnya, saya sedikit takut tapi saya tahu, hanya itu jalan saya untuk mendapatkan uang. Pelanggan itu tidak buruk. Kami hanya berhubungan, dia bayar, lalu pergi. Saya pikir ini cara mendapatkan uang dengan mudah, maka saya terus melakukan hal itu," tambahnya.
Satu setengah tahun lewat, Sze menjadi bagian dari fenomena sosial yang sedang berkembang di antara para remaja Hongkong yang disebut 'kencan berkompensasi', yakni sebuah praktik di mana seorang perempuan muda setuju untuk berkencan dengan seorang pria demi sebuah imbalan. Lebih sering, kencan itu mencakup berhubungan badani.
Sze bilang, dia memulai kencan berkompensasi karena banyak teman-teman kelasnya di sebuah sekolah khusus perempuan melakukan hal itu. Dia mengatakan, dirinya iri saat melihat teman-temannya bisa membeli pakaian, tas, dan kosmetik bermerek dengan uang yang diperoleh lewat kencan berkompensasi.
Sze menginginkan hal yang sama untuk dirinya, maka teman kelasnya lalu memperkenalkan dia pada sebuah forum obrolan di internet, di mana dia akhirnya mendapatkan pelanggan pertamanya.
Praktik semacam itu punya konsekuensi besar, yaitu kehilangan nyawa. Tahun lalu, seorang gadis Hongkong berusia 16 tahun tewas dalam sebuah pembunuhan mengerikan setelah dia pergi ke apartemen seorang pria berusia 24 tahun untuk sebuah kencan berbayar itu.
Pria itu, Ting Kai Tai, membunuh remaja putri tersebut, memotong-motong mayatnya dan membuangnya ke toilet. Hakim menghukum sang pembunuh dengan vonis hukuman penjara seumur hidup.
Sze mengatakan, dia tahu kencan berkompensasi itu dapat berujung pada horor mengerikan. Dia menetapkan sejumlah aturan main dengan cakon kliennya ketika mengadakan kontak telepon pertama kali. Dia meminta bayaran 350 dollar untuk sebuah kencan dan memastikan berapa waktu dia akan berhubungan dengan mereka.
Kadang-kadang, katanya, pelanggan menyimpang dari aturan itu, meminta hubungan tambahan atau menolak menggunakan kondom. "Beberapa kali, saya merasa malu. Saya bertanya pada diri sendiri mengapa saya harus melakukan hal semacam ini untuk mendapatkan uang. Tetapi perasaan semacam itu tidak berlangsung lama. Saya akan merasa rileks ketika saya ingin belanja sesuatu. Saya berpikir saya dapat berhenti setelah sebuah short time atau kapan pun saya mau," kata Sze.
Merasa bukan pelacur
Chiu Tak-Choi, seorang pekerja sosial, mengatakan, kebanyakan perempuan yang terlibat dalam kencan berkompensasi itu tidak melihat diri mereka sebagai pelacur. Para perempuan itu tidak menganggap demikian (diri mereka sebagai pelacur) karena berpikir bahwa mereka dapat berhenti kapan saja.
Para perempuan itu—meski mereka memasukkan rincian jati dirinya di internet—berpikir mereka bisa berhenti. Bahkan jika mereka bertemu dengan pria, yang jika dia tidak tampan, mereka bisa menolak dan mengatakan 'saya tidak melakukan itu'.
Mereka berpikir mereka punya cukup kekuasaan untuk mengontrol apakah mereka melakukan itu atau tidak. Jadi mereka berpikir itu sangat berbeda dengan pelacuran.
Chiu, sang pekerja sosial, sekarang sedang bekerja dengan 20 gadis yang tengah berupaya meninggalkan dunia kencan berbayar tersebut. Menurut dia, sangat sulit untuk menghitung seberapa besar masalah ini di Hongkong karena bisnis semacam ini dilakukan tanpa terpantau. Ia yakin persoalannya tambah runyam karena kasusnya berlipat dalam dua tahun terakhir.
Pelacuran dilarang di Hongkong, dan ahli hukum mengatakan, kencan berbayar merupakan sebentuk pelacuran.
Mengapa banyak gadis muda terlibat kencan berbayar ini? Menurut Chiu, alasannya beragam, mulai dari kehidupan rumah tangga yang kacau hingga hasrat untuk mendapat materi.
Ia mencontohkan, seorang remaja usia 14 tahun bilang kepadanya bahwa dia mulai terlibat kencan berkompensasi ketika gadis itu kehilangan telepon selulernya. Si gadis mengatakan, orangtuanya tidak akan memberinya telepon seluler yang baru. Maka, dia berpikir dirinya bisa mendapat uang cepat dengan kencan berbayar.
Mata gadis itu telah kepincut sebuah telepon seluler yang mahal. Ketika uang hasil kencan pertamanya tidak cukup untuk membeli telepon baru itu, dia mencari kencan berbayar yang kedua.
Menurut Chiu, para gadis yang terlibat dalam kencan berkompensasi ini tidak selalu berasal dari keluarga miskin. Mereka, kata dia, berasal dari semua kelas sosial ekonomi.
Menurut dia, perbaikan cara komunikasi dalam keluarga merupakan salah satu solusi untuk mencegah para gadis terjerumus dalam kencan berkompensasi. "Keluarga harus melakukan tugasnya. Saya pikir perhatian terhadap anak-anak sangat penting. Kapan pun mereka punya masalah, mereka dapat meminta tolong seseorang," kata Chiu.
Diselamatkan
Sze mengatakan, dia diselamatkan oleh seorang pekerja sosial yang menolongnya. Setelah ketakutan akan kehamilan dan prilaku sejumlah pelanggan yang tidak didapat diprediksi, Sze mengatakan harga dirinya runtuh. Pekerja sosial itulah mengembalikannya ke jalur yang benar.
"Dia membantu saya paham bahwa untuk mendapatkan uang secara terhormat tidak begitu sulit di Hongkong. Saya akhirnya sadar bahwa sungguh salah mendapatkan uang dengan menjual tubuh saya," katanya.
Sze sekarang bekerja di sebuah salon kecantikan untuk mendapat uang. Dia telah mencoba untuk berbicara dengan teman-teman lamanya agar keluar dari kencan berkompensasi, tetapi mereka tidak mau mendengar.
"Mereka merasa terganggu ketika saya katakan tentang hal ini (berhenti). Saya sekarang enggan berhubungan dengan mereka. Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka berbeda. Mungkin mereka punya persoalan keluarga yang lebih serius atau sejumlah hambatan lain. Saya tahu, saya tidak dapat mengontrol pikiran mereka, maka saya pun berhenti mencoba membantu mereka."


