Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 02:18 WIB
Sudan Ingin Normalisasi Hubungan dengan Chad
Egidius Patnistik | wsn | Senin, 12 Oktober 2009 | 12:50 WIB
|
Share:

AP Photo/Carolyn Kaster
Seorang aktivis asal Pittsburg, AS, Daniel Giovannelli, memajang nama-nama desa di Darfur yang hancur akibat perang di Sudan sejak 2004.

TERKAIT:

KHARTOUM, KOMPAS.com - Pemerintah Sudan menegaskan keinginan untuk menormalkan hubungan dengan Chad, menerapkan kesepakatan yang ditandatangani sebelumnya oleh kedua negara dan menyampaikan komitmen bagi kebijakan bertetangga yang baik.

"Kami telah memperbarui komitmen kami bagi kesepakatan yang sebelumnya telah kami tanda tangani dan menegaskan bahwa tak perlu ada kesepakatan baru. Apa yang diperlukan sekarang ialah komitmen dan tekad untuk menerapkan semua kesepakatan tersebut," kata Penasehat Presiden Sudan Ghazi Salahuddin dalam satu pernyataan pers setibanya dari ibukota Chad, N’Djamena, Minggu.

Salahuddin menggambarkan kunjungannya ke Chad dan pertemuannya dengan Presiden Chad, Idriss Deby, sebagai pembukaan lembaran baru dalam hubungan bilateral, dan menambahkan, "Ini akan secara positif mencerminkan mengenai Sudan pada umumnya dan wilayah Darfur khususnya".

Ia menjelaskan, pembicaraannya dengan Deby dipusatkan pada pembekuan banyak masalah antara kedua negara dan cara menyelesaikannya.    "Presiden Deby telah menyampaikan perasaan yang mendalam ke arah hubungan Sudan-Chad dan menyampaikan penyesalan mengenai apa yang telah terjadi pada hubungan ini pada waktu lalu.

Menurut Salahuddin, Deby berikrar akan bekerja sama dengan Sudan guna meletakkan hubungan bilateral tersebut pada jalur yang benar, dan dengan dasar prinsip keinginan baik.

Salahuddin, Sabtu, memulai kunjungan mengejutkan ke ibukota Chad dan disertai oleh gubernur Negara Bagian Darfur Barat serta Utara dan para pejabat dari Departemen Luar Negeri. Ini merupakan kunjungan pertama seorang pejabat senior Sudan ke Chad sejak kedua negara memutuskan hubungan diplomatik mereka setahun lalu, setelah mereka saling melontarkan tuduhan bahwa masing-masing pihak mendukung kelompok pemberontak di sepanjang perbatasan antara kedua negara itu.

Sumber :
ANT