Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 04:33 WIB
Gerilyawan Taliban Bunuh Delapan Tentara AS
Tri Mulyono | Minggu, 4 Oktober 2009 | 14:44 WIB
|
Share:

AP Photo/Musadeq Sadeq
Seorang tentara Afganistan berdiri di dekat burka yang digunakan oleh seorang pengebom bunuh diri di Gardez, ibu kota Provinsi Paktia, di timur Kabul, Selasa (21/7). Taliban melakukan sejumlah serangan ke kompleks gedung pemerintah dan pangkalan militer AS dengan bom, senapan, dan roket.

TERKAIT:

KABUL, KOMPAS.com — Sekelompok pria bersenjata keluar dari sebuah desa dan masjid menyerang dua pos di Afganistan dekat perbatasan Pakistan. Serangan ini menewaskan delapan tentara AS dan tujuh tentara Afganistan. Taliban menyatakan bertanggung jawab atas serangan itu.

Gubernur Provinsi Nuristan Jamaludin Badar mengatakan, serangan terjadi Sabtu (3/10) pagi dan berlangsung beberapa jam. Badar menjelaskan, dua pos itu berdiri di atas bukit dan satunya di kaki bukit, diapit sebuah desa dan sebuah masjid di sisi lain.

Militer AS menyatakan, tentara Amerika dan Afganistan membalas serangan itu menewaskan banyak korban di pihak musuh. "Ini adalah serangan kompleks di wilayah sulit," kata Kolonel Randy George, komandan wilayah itu. "Pasukan AS dan Afganistan bertempur dengan gagah berani bersama-sama," tambahnya.

Hampir delapan tahun setelah invasi pimpinan AS di Afganistan untuk menggulingkan pemerintah Taliban, para gerilyawan terus melawan. Komandan lebih dari 100.000 tentara NATO dan Amerika Serikat  di Afganistan, Jenderal AS Stanley McChrystal, menyebut situasi keamanan Afganistan "serius" dan dilaporkan meminta pasukan tambahan sampai 40.000 personel.

Pasukan tambahan itu akan dikirim terutama ke utara dan barat negara itu, kata militer AS, Sabtu. "Taliban berada dalam posisi kuat. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka ada di mana-mana," kata Mariam Abou Zahab, dari Pusat Studi dan Riset Internasional di Paris.

Afganistan utara dan barat tenang sampai awal tahun ini, tetapi situasi keamanan memburuk dalam bulan-bulan belakangan ini karena gerilyawan Taliban meningkatkan serangan sebelum pemilihan presiden 20 Agustus lalu. Seperti di selatan dan timur, pertempuran antara gerilyawan dan pasukan internasional kini hampir setiap hari terjadi.

Situasi politik yang tak menentu sejak pemilu memperburuk situasi keamanan karena belum ada hasil yang diumumkan siapa yang menang dalam pemilihan presiden itu, yang ditandai dengan tuduhan-tuduhan kecurangan.

Presiden Hamid Karzai, yang jadi sasaran tuduhan kecurangan, memimpin hasil sementara dengan 55 persen suara sah, sedangkan pesaing utamanya, Abdullah Abdullah, merebut 28 persen suara. Pemeriksaan 3.063 kotak suara yang dicurigai, menurut rencana, akan dimulai Senin, kata para pejabat pemilu.

Sumber :
AP