Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 02:16 WIB
Hindarkan Perang di Negeri Sendiri, Diperkosa di Negeri Orang
Tri Mulyono | Kamis, 1 Oktober 2009 | 08:57 WIB
|
Share:

AP Photo/Carolyn Kaster
Seorang aktivis asal Pittsburg, AS, Daniel Giovannelli, memajang nama-nama desa di Darfur yang hancur akibat perang di Sudan sejak 2004.

TERKAIT:

KOMPAS.com — Kaum perempuan berusaha menyelamatkan diri dari kekerasan di wilayah Darfur, Sudan, tapi menjadi korban rutin perkosaan di berbagai kamp pengungsi di negara tetangga, Chad, kendati pasukan terlatih PBB ada di sana, kata Amnesty International, Rabu (30/9).

Kelompok hak asasi tersebut menyiarkan laporan yang mengatakan polisi Chad dengan dukungan PBB tak berbuat banyak untuk melindungi perempuan dewasa dan yang masih muda dari serangan seks dan tindak kekerasan lain oleh warga desa, tentara, keluarga dan dalam beberapa kasus oleh pekerja bantuan.

Juru bicara bagi misi PBB di Chad, MINURCAT, mengatakan kepada kantor berita Inggris, Reuters, telah tersiar laporan mengenai perempuan yang diserang, kebanyakan di luar kamp, tapi ia membela polisi dan mengatakan situasi keamanan meningkat di daerah tersebut.

"Semua perempuan ini meninggalkan Darfur, dengan harapan bahwa masyarakat internasional dan pemerintah Chad akan memberi mereka suatu tindakan keamanan dan perlindungan," kata Wakil Direktur Program Amnesty di Afrika, Tawanda Hondora.

"Perlindungan itu telah terbukti sukar diperoleh dan mereka tetap menghadapi serangan."

Amnesty menyatakan lebih dari 142.000 perempuan dewasa dan remaja telah menyelamatkan diri dari konflik enam tahun di Darfur untuk mengungsi di 12 kamp di dalam perbatasan Chad.

Para peneliti kelompok itu mengecam polisi Chad, DIS (Detachement Intergre de Securite), pasukan yang dilatih oleh PBB untuk melindungi pengungsi di dalam kamp dan sekitarnya.

"DIS menghabiskan banyak waktu untuk melindungi diri mereka. Bahkan tentara PBB harus melindungi mereka. Tak seorang pun kelihatan memiliki banyak waktu untuk melindungi kami," kata seorang perempuan yang dikutip di dalam laporan tersebut.

Juru bicara MINURCAT Michel Bonnardeaux mengatakan polisi DIS telah menerima pelatihan khusus dalam menangani kasus perkosaan. "Mengingat apa yang mereka miliki, mereka melakukan pekerjaan yang sangat baik," katanya.

"Saya kira (laporan) itu agak terburu-buru dan berdasarkan pada satu contoh yang sangat kecil dan kunjungan singkat. Saya ingin mengundang para peneliti tersebut untuk kembali dan melakukan statistik yang lebih baik untuk memperoleh gambaran yang lebih baik ... Situasinya tentu saja lebih baik dibandingkan dengan keadaan setahun lalu."

Laporan Amnesty itu, yang berjudul "No Place for us here: Violence against refugee women in eastern Chad", menyatakan organisasi tersebut telah menemukan bukti mengenai anak perempuan yang menghadapi pelecehan di sekolah di kamp pengungsi.

Amnesty menyatakan tak dapat mengumpulkan data statistik terperinci mengenai serangan, selama kunjungan para peneliti ke Chad dari akhir April sampai pertengahan Mei tahun ini, karena banyak perempuan memilih untuk tidak melaporkan serangan guna menghindari mendapat aib di masyarakat.

Kaum perempuan menghadapi resiko di dalam kamp, bukan hanya ketika mereka pergi ke luar untuk mengumpulkan kayu bakar, kata laporan itu.

"Mereka menghadapi resiko perkosaan dan kekerasan lain di tangan anggota keluarga, pengungsi lain dan staf organisasi kemanusiaan, yang sebenarnya bertugas memberi mereka bantuan dan dukungan," kata Hondora dari Amnesty.

Amnesty menyeru Pemerintah Chad agar mulai memberlakukan hukum terhadap pelaku perkosaan dan menyusun program bersama kelompok internasional guna meningkatkan kesadaran mengenai serangan terhadap perempuan.

Berbagai kelompok hak asasi manusia telah melaporkan perkosaan luas terhadap perempuan selama konflik di wilayah terpencil Sudan barat, Darfur.

Pertempuran di sana meningkat pada 2003, ketika sebagian besar pemberontak non-Arab mengangkat senjata menentang pemerintah Khartoum, dan menuduhnya "tak mengacuhkan" wilayah itu. Sudan membantah serangan seksual rutin telah terjadi di Darfur, yang berbatasan dengan Chad.

Sumber :
ANTARA
Rabu, 23/05/2012 14:13 WIB

Yaman di Ambang Krisis Pangan

Rabu, 23/05/2012 10:47 WIB

Sepertiga Obat Malaria di Dunia Palsu