SEOUL, KOMPAS.com — Tangis haru memecah keheningan dari ratusan anggota keluarga Korea Utara yang bersatu kembali setelah terpisah lebih dari setengah abad. Salah satu keluarga adalah Lee Dong-un yang akhirnya dapat menemui kembali putrinya yang telah berusia 60 tahun, Sabtu (26/9), dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Pyongyang untuk memulihkan ketegangan dengan Korea Selatan.
Berbaur dengan keharuan dan kegetiran akan masa silam, Lee kembali terkenang masa ketika meninggalkan sang istri yang hamil dan putrinya yang saat itu berusia 2 tahun. Lee melarikan diri menuju Korea Selatan selama pecah Perang Korea.
Lee yang saat ini berusia 84 tahun tak kuasa menahan linangan air mata setelah putrinya itu mengabarkannya bahwa sang istri yang saat itu hamil tewas terkena serangan bom.
"Aku selalu memikirkanmu. Tak pernah terbayang sebelumnya apabila kita akan dipertemukan kembali," demikian potongan pembicaraan Lee dengan putrinya seperti dikutip oleh sejumlah laporan media Korea Selatan. Wartawan asing tidak diundang dalam reuni antarkeluarga Korea Utara itu.
Reuni ini merupakan yang pertama antarkedua negara yang sempat terpecah konflik dalam hampir 2 tahun. Pyongyang menangguhkan program ini pada 2007 sebagai aksi balas dendamnya terhadap sikap konservatif Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak yang sempat menekan negara komunis itu agar menghentikan program nuklirnya.
Dilanjutkannya kembali program itu dinilai luas sebagai upaya terbaru Korea Utara merajut kembali hubungan damai dengan Seoul. Dalam beberapa pekan terakhir, Pyongyang telah membebaskan 5 warga Korea Selatan yang ditahan.
Korea Utara juga sepakat memulihkan proyek industri gabungan kedua negara serta membuka kembali tur yang tertangguhkan bagi warga Korea Selatan ke Pyongyang.
Lebih dari 120 warga Korea Selatan, yang sebagian besar berusia lebih dari 70 tahun, tiba di resor Diamond Mountain, pantai timur Korea Utara, Sabtu, untuk mengikuti acara reuni itu. Jutaan keluarga masih terpisah menyusul pecahnya Semenanjung Korea pada 1945 dan perang sipil yang membuntutinya.
Selama ini tidak ada hubungan surat-menyurat, telepon maupun e-mail antara warga kedua Korea. Warga kedua negara juga tidak dapat saling melakukan perjalanan menyeberang perbatasan tanpa ada izin dari masing-masing negara.


