”Saya tidak menganggap sanksi sebagai cara terbaik untuk mencapai hasil soal Iran. Namun, jika semua kemungkinan untuk memengaruhi situasi sudah habis, kita bisa menggunakan sanksi internasional,” ujar Medvedev di hadapan 200 mahasiswa University of Pittsburgh, di Pittsburgh, Pennsylvania, Kamis (24/9). Selama ini, Rusia menentang sanksi baru atas Iran. Akan tetapi, setelah pekan lalu Presiden AS Barack Obama membatalkan rencana untuk membangun sistem tameng antirudal di ”halaman belakang” Rusia, muncul spekulasi Moskwa akan membuat langkah soal sanksi terhadap Iran sebagai imbalannya. Kata Medvedev, jarang sekali sebuah sanksi produktif. Namun, dia membuka pintu kemungkinan sanksi jika Iran bersikeras dengan program nuklirnya. ”Dalam beberapa kasus, sanksi tidak bisa dihindari. Kita perlu membantu Iran membuat keputusan yang benar,” ujar Medvedev seusai bertemu dengan Obama di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, di New York, Kamis. Pada Rabu lalu, seorang pejabat Rusia mengatakan, Moskwa bisa saja mendukung sanksi baru jika ada cukup bukti dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). ”Bagi Rusia, kriterianya bukan evaluasi individual, bukan prasangka, melainkan laporan dan rekomendasi dari IAEA,” kata pejabat itu seperti dikutip kantor berita RIA-Novosti. Obama mengatakan, dia dan Medvedev berpandangan bahwa Iran bisa mengembangkan nuklir untuk tujuan damai, tetapi bukan senjata nuklir. ”Sayangnya, Iran telah melanggar terlalu banyak komitmen internasionalnya. Yang kami diskusikan adalah bagaimana kita bisa bergerak secara positif untuk memecahkan potensi krisis,” katanya. Sebelumnya, dalam pertemuan yang dipimpin Obama, Dewan Keamanan PBB secara bulat menyetujui sebuah resolusi yang menggambarkan dunia tanpa senjata nuklir. Resolusi itu menyerukan diakhirinya proliferasi senjata nuklir, tetapi tidak secara khusus menyebut Iran dan Korea Utara yang dianggap Barat sebagai ancaman nuklir terbesar. Dari Teheran dilaporkan, Iran telah mengungkapkan kepada IAEA negara itu tengah membangun fasilitas pengayaan uranium yang kedua. Pengumuman itu dibuat dalam sebuah surat kepada Direktur Jenderal IAEA Mohamed ElBaradei, Senin lalu. Dua diplomat yang dekat dengan IAEA, kepada Reuters kemarin mengatakan, fasilitas itu merupakan tempat pengayaan level percobaan, tetapi belum beroperasi. ”Belum ada perlengkapan pengayaan yang beroperasi dan belum ada material nuklir,” kata salah seorang diplomat. Iran telah memiliki satu fasilitas nuklir di Natanz, 250 kilometer selatan Teheran.


