Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 01:59 WIB
Desember, Tenggat bagi Iran
Josephus Primus | Kamis, 24 September 2009 | 06:32 WIB
|
Share:

PARIS, KOMPAS.com — Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengatakan pada Rabu (23/9), tenggat Desember harus ditetapkan bagi Iran untuk menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan dengan kekuatan dunia mengenai program nuklirnya yang dicurigai.
   
"Harus ditetapkan tenggat dan menurut saya pada Desember," kata Sarkozy ketika ditanya tentang prospek sanksi atas Iran jika kebuntuan soal kegiatan nuklir Teheran terus berlanjut.
   
Perancis termasuk di antara enam negara besar yang berurusan dengan dokumen nuklir dan mereka akan duduk bersama dengan Iran di Jenewa pekan depan.
   
Teheran membantah bahwa pihaknya berusaha mengembangkan senjata nuklir dan menyatakan akan membahas proposal untuk memajukan perlucutan senjata nuklir global pada pertemuan Jenewa. "Iran punya hak untuk memiliki energi nuklir, tetapi kami tak dapat memahami senjata nuklir di tangan para pemimpin saat ini. Itu tak dapat diterima," kata Sarkozy dalam wawancara dengan televisi Perancis dari New York, tempat ia menghadiri pertemuan Sidang Umum PBB.
   
Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara besar lain di dunia mencurigai Teheran sedang membuat bom atom, berkedok program nuklir sipil. Negara Islam itu membantah tudingan tersebut.
   
Dewan Keamanan PBB sudah memberlakukan tiga sanksi terhadap Iran karena penolakannya membekukan aktivitas pengayaan uranium yang dapat digunakan membangun bom atom.
   
Menteri Luar Negeri Perancis Bernard Koucher mengatakan sebelumnya bahwa ia tidak mendukung pemberlakuan sanksi bahan bakar atas Iran, dengan argumentasi bahwa langkah demikian akan menyusahkan rakyat Iran daripada kepemimpinan negara itu.
   
Perancis mendorong jadwal waktu ketat untuk pemberlakuan sanksi jika pembicaraan Iran dan kekuatan dunia gagal, kata para pejabat pekan lalu.

Sumber :
Ant
Rabu, 23/05/2012 14:13 WIB

Yaman di Ambang Krisis Pangan

Rabu, 23/05/2012 10:47 WIB

Sepertiga Obat Malaria di Dunia Palsu