KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Najib Razak Keberatan Malaysia Dicap "Pengekspor" Teroris
Sabtu, 19 September 2009 | 17:55 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak menegaskan, sangat tidak pantas jika Malaysia dicap sebagai negara yang “mengekspor” para militan karena terorisme adalah masalah regional atau global tanpa batas-batas negara.

“Bahkan dalam kasus serangan 11 September (2001) yang menghancurkan menara kembar World Trade Center di Amerika Serikat, para teroris berasal dari luar negara itu. Hal ini menunjukkan bahwa kita menghadapi isu global, tidak terbatas pada satu negara,” kata Najib Razak seperti dikutip "Malay Mail", hari Sabtu (19/9).

PM Malaysia ini mengomentari tewasnya Noordin Mohd Top, teroris yang paling diburu di Asia Tenggara, dalam serangan polisi di Solo, Jawa Tengah, Kamis lalu.

Noordin, anggota Jemaah Islamiyah (JI), adalah otak dan dalang dari serangkaian aksi pengeboman di Bali dan Jakarta selama ini.

Najib Razak mengatakan, berbagai persoalan terorisme membutuhkan kerja sama antarnegara, bahkan kerja sama di tingkat global.

“Noordin sebenarnya dipengaruhi Abubakar Baasyir, seorang warga negara Indonesia. Jadi, untuk mengatakan bahwa kita (Malaysia) mengekspor para militan, adalah tidak benar karena dia (Noordin) dipengaruhi oleh Abubakar Baasyir dari Indonesia, yang membuka sekolah agama di Ulu Tiram, Johor. Dari sanalah, semuanya berawal,” ungkap PM Malaysia Datuk Najib Razak.

“Seperti kita ketahui bersama, terorisme adalah masalah regional dan global. Tak ada batas-batas negara. Dibutuhkan kerja sama antarnegara di tingkat global,” tandas Najib Razak.

 

Penulis: KSP   |     |   Sumber : Malay Mail Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.