Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 01:44 WIB
Noordin "Selesai", Bukti Militansi Teroris Kendur
Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 18 September 2009 | 12:41 WIB
|
Share:

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Empat jenazah teroris, yang tewas dalam penyergapan oleh tim polisi antiteror di Solo, tiba di Rumah Sakit Polri Sukamto, Jakarta Timur, Kamis (17/9). Gembong teroris Noordin M Top akhirnya tewas tertembak peluru dalam peristiwa tersebut.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top, dikenal licin bagaikan belut. Murid asuhan Dr Azahari itu diburu Kepolisian RI selama 9 tahun lamanya. Berulang kali Noordin berhasil lolos saat dilakukan penggerebekan di sarang terorisme. Namun, petualangannya di Indonesia berakhir pada 17 September atau tepat dua bulan setelah aksi terakhirnya pada peledakan bom di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Sebuah rumah di Kampung Kepuh Sari, Mojosongo, Jebres, Solo, Jawa Tengah, menjadi tempat Noordin menyabung nyawa. Mengapa kali ini Noordin tak selicin biasanya?

Pengamat intelijen dan terorisme, Wawan H Purwanto, menilai, takluknya Noordin kali ini disebabkan mengendurnya militansi anggota jaringannya. Dalam pengamatannya, sejumlah teroris yang ditangkap hidup-hidup akhirnya mau "buka mulut" dan menunjukkan di mana Noordin bersembunyi.

"Selama ini kan sulit untuk mengetahui di mana dia (Noordin). Kalau akhirnya diketahui, berarti militansi para teroris sudah berkurang karena mereka mengaku saat ditangkap. Ini memperlancar kerja polisi," ujar Wawan, Jumat (18/9), kepada Kompas.com.

Sesuai kronologi yang dipaparkan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, pengendusan markas Noordin berawal dari penangkapan dua orang anggota jaringan pada Rabu (16/9) siang lalu. Mereka adalah Rohmad Puji Prabowo alias Bejo dan Supono alias Kedu. Keduanya diketahui anggota kelompok Urwah dan Aji, yang turut tewas dalam penggerebekan.

Terbongkarnya tempat persembunyian Noordin, menurut Wawan, pasti di luar dugaan jaringan yang telah melakukan serangkaian pengeboman di berbagai tempat di Indonesia ini. "Mereka yang tersisa pasti terpukul dan mendapatkan pukulan psikologis. Hubungan koordinasi dan konsolidasi juga pasti kacau," kata dia.

Rabu, 23/05/2012 14:13 WIB

Yaman di Ambang Krisis Pangan

Rabu, 23/05/2012 10:47 WIB

Sepertiga Obat Malaria di Dunia Palsu