Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 07:56 WIB
Deplu Kirim Pejabat Tinggi ke Australia
R Adhi Kusumaputra | Jumat, 11 September 2009 | 13:38 WIB
|
Share:

AFP/Paul CROCK
Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta buka suara soal peristiwa Balibo yang menewaskan 5 jurnalis asing di Timor Timur tahun 1975 dalam acara pemutaran perdana film Balibo di Festival Film Internasional Melbourne di Australia Jumat (24/7). Film ini dibintangi di antaranya, Anthony LaPaglia.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia akan mengirim beberapa pejabat tingginya ke Australia untuk mengklarifikasi sekaligus menegaskan posisi Indonesia terkait kasus ’Balibo Five.’

"Bagi Indonesia, kasus ini dianggap sudah selesai dengan kesimpulan bahwa kematian lima orang wartawan asing di Timor Leste pada tahun 1975 adalah murni kecelakaan," kata juru bicara Deplu Teuku Faizasyah di Jakarta, Jumat (11/9).

Menurutnya, kasus Balibo Five yang penyelidikannya dimulai lagi sejak 20 Agustus 2009 dikhawatirkan mengganggu hubungan bilateral Indonesia-Australia yang pada tahun-tahun belakangan ini semakin positif.

"Kepolisian Federal Australia (AFP) sendiri mengakui bahwa kasus ini bukan kasus mudah untuk diungkapkan karena melibatkan banyak pihak dan kejadiannya telah berlangsung bertahun-tahun yang lalu," kata Faizasyah.

Dalam insiden Balibo Five ada lima wartawan asing yang tewas. Mereka adalah reporter Greg Shackleton (Australia), perekam suara Tony Stewart (Australia), juru kamera Gary Cunningham (Selandia Baru), juru kamera Brian Peters (Inggris), dan reporter Malcolm Rennie (Inggris).

Pihak Indonesia mengatakan, kelima wartawan tersebut tewas di tengah baku tembak antara "sukarelawan Indonesia" dan anggota Fretilin, sementara kesimpulan Pengadilan Glebe Coroners Negara Bagian New South Wales (NSW) menyatakan bahwa personel TNI merupakan pihak yang membunuh lima wartawan Australia itu.

Ditanya mengenai film "Balibo Five" yang disutradarai oleh warga Australia dan ditayangkan di Timor Leste baru-baru ini, Faizasyah menyatakan, film tersebut diangkat dari novel fiksi. Oleh karena itu, lanjutnya, masyarakat yang sudah menonton diharapkan tidak terjebak antara fakta sejarah sesungguhnya dan kisah rekaan dalam film tersebut.

"Kami tidak akan melarang masyarakat menonton film Balibo Five, namun kami berharap mereka bisa berpikir jernih dan waspada atas pencitraan negatif terhadap Indonesia dalam film itu," ujarnya.

Sumber :
Antara