Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 10:43 WIB
Deplu: "Balibo Five" Berpotensi Ganggu Hubungan Indonesia-Australia
Hindra | Jumat, 11 September 2009 | 12:59 WIB
|
Share:

AFP/Paul CROCK
Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta buka suara soal peristiwa Balibo yang menewaskan 5 jurnalis asing di Timor Timur tahun 1975 dalam acara pemutaran perdana film Balibo di Festival Film Internasional Melbourne di Australia Jumat (24/7). Film ini dibintangi di antaranya, Anthony LaPaglia.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Departemen Luar Negeri RI mengingatkan, rilis film Balibo Five dapat berpotensi mengganggu hubungan bilateral Indonesia-Australia. Bagi Indonesia, kasus Balibo Five telah ditutup, dan pemerintah tidak memiliki intensi untuk membukanya kembali.

Balibo Five merujuk pada kasus terbunuhnya lima wartawan asing di Timor Leste pada tahun 1975 saat meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste. Bagi Pemerintah Indonesia, kelima wartawan tersebut tewas ketika meliput. Pemerintah Indonesia menyimpulkan bahwa mereka tewas karena terjebak dalam peperangan. Deplu menganggap film tersebut tidak didasarkan oleh fakta-fakta yang ada.

Juru bicara Deplu Teuku Faizasyah mengatakan, pihaknya telah meminta pejabat tinggi untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Australia Steven Smith dan menyampaikan posisi Indonesia. "Posisi Indonesia sudah jelas. Hal ini akan berdampak pada hubungan bilateral yang selama ini sudah stabil dan positif," ujar Faizasyah kepada pers, Jumat (11/9) di Ruang Palapa, Departemen Luar Negeri Jakarta.

Faizasyah mengatakan, terkait kasus Balibo Five yang kembali dipersoalkan oleh Kepolisian Federal Australia (AFP), Deplu akan terus memonitor perkembangannya. Kamis kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, dipersoalkannya kembali kasus Balibo Five bertentangan dengan semangat untuk mengakhiri konflik Indonesia-Timor Leste. Kedua negara telah membentuk Commission of Truth and Friendship (CTF) untuk mengakhiri konflik. Presiden SBY meminta Australia turut mendukung langkah-langkah CTF untuk mengakhiri konflik secara bijak, kemudian melihat ke depan dengan sejumlah rekomendasi yang ditindaklanjuti oleh Indonesia maupun Timor Leste.