TARAKAN, KOMPAS.com — Muhib, korban kecelakaan pesawat TNI Angkatan Laut di Kalimantan Timur, meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tarakan, Rabu (9/9) pukul 15.30 Wita. Lelaki asal Nusa Tenggara Barat itu sebelumnya dirawat dan dioperasi di RSAL dr Ilyas di Tarakan.
"Muhib selesai kami operasi pukul 14.00 Wita. Namun, napasnya berat sehingga kami bawa ke RSUD Tarakan pukul 14.30 Wita. Nyawanya tidak tertolong dan meninggal pukul 15.30 Wita," kata Kepala RSAL dr Ilyas, Mayor Laut (K) drg Zainal Effendi, SpBM di Tarakan, Rabu malam.
Muhib adalah satu dari lima korban jatuhnya pesawat intai maritim Nomad N-24 P837 di pertambakan Sukun-Mentadau, Desa Sekatak Bengara, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Senin siang. Empat orang warga sipil yang ikut dalam pesawat tewas dalam kecelakaan itu yakni Yakub Kayan, Muslimin, Fikri, dan Sri Hardi.
Sejak kecelakaan, Muhib dirawat di RSAL dr Ilyas. Zainal mengatakan, Muhib menjalani operasi pertama untuk mencegah perembesan perdarahan di bagian dalam perut. Setelah operasi pertama, di perutnya dipasang drain, alat seperti lembaran kasa penahan perdarahan. Namun, Muhib harus menjalani operasi kedua pada Rabu siang untuk mengangkat drain itu.
Zainal mengatakan, tim dokter RSAL dr Ilyas sudah berupaya maksimal untuk operasi kedua. "Seusai operasi napasnya berat. Kami membawanya ke RSUD Tarakan karena fasilitas kami kurang memadai," katanya.


