JAKARTA, KOMPAS.com - Turunnya perkembangan obligasi syariah (sukuk) akibat krisis global diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Pada semester II tahun ini, investor mulai memberikan sentimen positif sehingga pasar sukuk akan segera bangkit.
"Untuk saat ini pertumbuhan pasar sukuk memang menurun karena krisi ekonomi, apalagi market masih takut masuk pasar modal. Tapi hal tersebut tidak akan lama," ujar Mahmoud Abbusama, Head of HSBC Amanah Indonesia di Jakarta, Selasa (8/9) . Hingga Agustus lalu sukuk global berjumlah 11,1 miliar dollar Amerika, atau menurun pada periode yang tahun lalu dikisaran 14 miliar dollar AS.
Ia mengatakan dalam kurun waktu delapan bulan ini setidaknya ada 96 sukuk yang dilempar kepasar, 66 diantaranya dikeluarkan pemerintah Indonesia. Mahmoud menuturkan, pada tahun 2010 nanti akan terjadi pertumbuhan yang luar biasa pada pasar sukuk nasional. Ia bahkan memperkirakan pada kuartal I tahun depan, pemerintah akan menerbitkan dua sukuk.
Namun, sayang Mahmoud menolak menjelaskan secara rinci nilai sukuk tersebut. Ia hanya menjelaskan kemungkinan HSBC Amanah yang akan menjadi penjamin emisi sukuk tersebut. Pasar sukuk global saat ini mencapai 15 miliar dollar AS.
"Baru saja ada persetujuan dari parlemen untuk meningkatkan aset sukuk. Saya kira Indonesia akan meneruskan perannya sebagai penggerak dalam sukuk global," kata dia.
Secara global Malaysia dan Arab Saudi menduduki peringkat teratas penerbitan sukuk. Disusul Indonesia dan Bahrain.
Ia merasa optimis Indonesia dapat menjadi penggerak dalam sukuk global, pasalnya terdapat permintaan yang cukup besar terhadap sukuk dari beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Eropa. Hal tersebut disebabkan investor sukuk lebih luas dibanding investor obligasi konvensional.
"Investor muslim enggan membeli obligasi konvensional. Tapi investor sukuk bukan hanya investor muslim, melainkan investor global," kata Mahmoud.

