URUMQI, KOMPAS.com -
Para pemrotes yang sebagian besar adalah suku Han mengungkapkan kekecewaan mereka atas upaya pemerintah menyelesaikan kerusuhan dua bulan lalu. Mereka menganggap aparat setempat sangat lamban dalam menangani dalang di balik kerusuhan yang memakan korban tewas 200 orang itu.
Para pemrotes menginginkan hukuman bagi orang yang berada di balik kerusuhan antara suku Han dan Uighur. Selain itu, kelompok suku Han juga merasa diteror dan menjadi sasaran serangan penyemprotan misterius.
Kantor berita Xinhua menyebutkan, protes terakhir terjadi di di pusat kota dekat pintu masuk Nanhu Square. Polisi menahan 1.000 pemrotes agar mereka tidak memasuki lapangan tersebut.
Mobil patroli polisi berkeliling kota dengan pengeras suara, meminta agar orang-orang pulang ke rumah. Sekolah-sekolah ditutup dan jalur bus kota terganggu karena barikade berada di sepanjang jalan di dalam kota.
”Masalah utamanya adalah tidak ada orang yang merasa aman sekarang,” ujar Zhen Guibin, seorang Han.
Ribuan orang, sebagian besar berasal dari suku Han, memenuhi jalan di Urumqi selama dua hari. Mereka menginginkan peningkatan keamanan di kawasan Xinjiang yang masih panas sejak kerusuhan dua bulan lalu.
Ratusan pemuda Han juga menggelar aksi protes di halaman depan kantor Sekretaris Partai Cabang Xinjiang Wang Lequan. Wang dikenal dekat dengan Presiden China Hu Jintao. Pemuda itu menyerukan agar Wang turun dari jabatannya. Wang sudah menduduki jabatannya selama 14 tahun.
Kewaspadaan dan kecurigaan sebenarnya telah merebak sejak pekan lalu. Pemerintah mengirimkan pesan lewat layanan pesan singkat (SMS) ke telepon seluler warga, memperingatkan bahwa akan ada serangan dengan semprotan. Beberapa orangtua murid bahkan takut memperbolehkan anaknya ke sekolah pada awal pekan ini.
”Masalah ini bagaikan duri dalam daging, kita harus mencari pemecahannya segera,” ujar salah seorang pemrotes. Pemrotes juga menyerukan agar hak-hak orang Han diperhatikan. Sekelompok pemuda Han melambai-lambaikan bendera dan berteriak, ”Kami perlu keamanan.” Polisi mengambil bendera itu, tetapi kerumunan itu terus berteriak-teriak.
Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia, mengatakan, tekanan harus diarahkan kepada Beijing untuk berbicara dengan Rebiya Kadeer, pemimpin Uighur yang tinggal di AS. China menuduh Rebiya berada di balik kerusuhan, tetapi dia menolak tuduhan itu.

