Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 01:01 WIB
Pekan Depan Perundingan Siprus Mulai Lagi
Josephus Primus | Jumat, 4 September 2009 | 16:01 WIB
|
Share:

NIKOSIA, KOMPAS.com - Siprus, Kamis (3/9), mengatakan pihaknya  mengharapkan perundingan perdamaian akan dimulai kembali pekan depan , setelah pembukaan perundingan baru ditangguhkan karena pertikaian menyangkut para peziarah Siprus Yunani.
   
"Perundingan itu akan dilanjutkan seperti biasa pada 10 September sesuai dengan tanggal yang telah ditetapkan yaitu sebelum musim panas usai," kata Stefanos Stefanou, juru bicara pemerintah Siprus Yunani.
    
Pihak Siprus Yunani membatalkan perundingan yang menurut rencana diselenggarakan Kamis dengan Siprus Turki setelah lebih dari 500 jemaah ditolak mengunjungi sebuah gereja di Siprus utara , yang berada dibawah kekuasaan Siprus Turki.
    
Para warga Siprus Yunani mengatakan pihak Siprus Turki memberlakukan larangan penyeberangan dan pihak Siprus Turki  mengatakan para peziarah itu mencemoohkan  peraturan-peraturan penyeberangan itu.
    
Masyarakat Yunani dan Turki di Siprus yang pecah itu mulai melakukan perundingan perdamaian September 2008. Masyarakat internasional ingin adanya kemajuan tahun ini, khawatir bahwa momentum  itu akan hilang jika ada perubahan dalam kepemimpinan Siprus Turki  awal tahun 2010 ketika pemilihan presiden diselenggarakan.
    
Pulau itu terpecah dua sejak invasi Turki tahun 1974 yang dipicu oleh satu kudeta singkat pimpinan Yunani. Konflik itu menyulitkan usaha Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa, di mana pemerintah Siprus Yunani mewakili pulau itu.
    
Turki tidak mengakui pemerintah Siprus Yunani, dan mendukung sebuah negara Siprus Turki di Siprus utara.
    
Surat-surat kabar Siprus Yunani, Kamis memberitakan tentang insiden di tempat penyeberangan  Rabu itu yang menyebut ziarah itu bertujuan untuk memperbaiki hubungan antara kedua pihak, sebagai satu "kegagalan".

 

Sumber :
Ant
Rabu, 23/05/2012 14:13 WIB

Yaman di Ambang Krisis Pangan

Rabu, 23/05/2012 10:47 WIB

Sepertiga Obat Malaria di Dunia Palsu