TAIPEI, KOMPAS.com — Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet di pengasingan yang dicap Beijing sebagai seorang separatis, Kamis (3/9), menyatakan kesiapannya berunding dengan China menyangkut masalah Tanah Airnya. Untuk itu, ia masih ingin melihat adanya "lampu hijau" dari China.
"Sikap kami sangat jelas. Kami selalu siap (untuk berunding) selama kami mendapat lampu hijau dari China," kata Dalai Lama di Taipei, sehari sebelum ia meninggalkan Taiwan setelah memanjatkan doa untuk para korban topan yang terjadi baru-baru ini. Ia mengatakan, China sejauh ini tidak memberikan lampu hijau bagi perundingan.
Dalai Lama meninggalkan Tibet tahun 1959 setelah pemberontakan yang gagal terhadap kekuasaan China. Beijing menyebut dia seorang "separatis" yang berusaha memisahkan hampir seperempat luas tanah Republik Rakyat China. Dalai Lama membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa ia berusaha untuk mendapatkan hak-hak yang lebih luas, termasuk kebebasan beragama dan otonomi untuk rakyat Tibet.
Para pejabat China dan wakil-wakil Dalai Lama melakukan perundingan secara rahasia mengenai masalah Tibet sejak tahun 1979. Putaran terakhir diselenggarakan November lalu yang berakhir dengan kedua pihak saling menyalahkan atas tidak adanya kemajuan.
Kunjungan Dalai Lama dari 30 Agustus sampai 4 September ke Taiwan dipusatkan pada doa bagi para korban topan yang menewaskan tidak kurang dari 745 orang, perundingan soal agama, dan pertemuan dengan para warga lokal Tibet.
Ia mengemukakan kepada televisi lokal bahwa terlalu cepat untuk mengetahui, apakah kunjungan-kunjungannya itu mengganggu hubungan Taiwan dengan China, pesaing politik yang mengancam akan merebut pulau itu jika perlu dengan kekuatan militer. "Tidak ada tanda manipulasi menyangkut tempat saya, kunjungan saya. Saya merasa tidak ada," katanya.
Beijing menolak mengecam Presiden Taiwan, yang bersahabat dengan China dan mengizinkan Dalai Lama berkunjung ke pulau itu hanya atas desakan para pemimpin oposisi, tetapi membatalkan beberapa acara dengan Taiwan. "Terlalu dini untuk berbicara dan akan memerlukan waktu sampai 12 bulan untuk menemukan, apakah kunjungan itu mengganggu hubungan Taiwan-China," kata Dalai Lama. Sebelumnya, dia dua kali mengunjungi Taiwan.
China menyatakan kedaulatannya atas Taiwan, yang memiliki pemerintah sendiri sejak tahun 1949 ketika pasukan Mao Zedong menang dalam perang saudara di China dan kelompok Nasionalis pimpinan Chiang Kai Shek lari ke pulau itu. Taiwan bekerja sama dengan China sejak pertengahan tahun 2008 untuk meredakan permusuhan dengan menjalin hubungan perdagangan dan transit.
Puluhan pemrotes dari koalisi kelompok-kelompok politik berkumpul dekat hotel Taipei tempat Dalai Lama menginap hari Rabu dan Kamis. Mereka menuntut agar Dalai Lama segera meninggalkan Taiwan.
"Lawatan itu memiliki dampak negatif pada hubungan dengan China. Seberapa jauh dampak itu kita harus tunggu dan lihat. Jika tidak ada suara-suara menyerukan kemerdekaan Tibet dan kemerdekaan Taiwan, kami akan menyambut baik kunjungan Dalai Lama," kata penyelenggara protes Wang Chuan Ping.


