TOKYO, KOMPAS.com-Perdana Menteri Jepang Taro Aso mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ketua Partai Demokratik Liberal (LDP) menyusul kekalahan telak partainya dalam pemilu, Minggu (30/8).
"Hasil ini sanggat menyakitkan. Ada ketidakpuasan amat sangat terhadap partai ini," kata Aso. Dalam pidato di televisi itu, Aso juga mengucapkan selamat atas kemenangan telak Partai Demokrat Jepang (DPJ).
DPJ yang beraliran kiri tengah diprediksi memperoleh 300 dari 480 kursi di parlemen tingkat rendah. Partai ini mengalahkan Partai Demokrat Liberal (LDP) yang telah memerintah Jepang sejak 1955. Jika hasil ini benar maka berakhir sudah kejayaan kelompok konservatif yang telah mendominasi pemerintahan di Jepang dalam 54 tahun terakhir.
Kekalahan LDP yang secara tradisional probisnis dan konservatif membuka peluang Yukio Hatoyama, pimpinan Partai Demokratik untuk menggantikan Perdana Menteri Taro Aso dan membentuk kabinet baru. Kabinet baru diperkirakan terbentuk dalam beberapa pekan mendatang.
Hasil pemilu ini dipandang sebagai rasa frustrasi atas merosotnya ekonomi Jepang, terburuk sejak Perang Dunia II. Rakyat tak mempercayai kemampuan LDP lagi untuk mengatasi masalah-masalah besar seperti meroketnya utang nasional dan bertambahnya penduduk usia lanjut.
Sementara itu, DPJ mampu merangkul pemilih dengan platform lebih populis. Partai ini dianggap lebih menjanjikan bagi keluarga beranak, petani dan kalangan gaji minimal lebih tinggi.
Demokrat juga berjanji lebih independen dalam berhubungan dengan AS, dan akan meningkatkan hubungan dengan negara-negara tetangga di Asia, termasuk China. Namun, Hatoyama yang merupakan doktor teknik lulusan Stanford University menegaskan tidak akan melakukan perubahan drastis dalam kebijakan luar negeri Jepang.


