WASHINGTON, KOMPAS.com — Rebiya Khadeer, pemimpin minoritas Uighur China di pengasingan, Senin (24/8), mengatakan, dia menerima laporan bahwa hampir 200 warga Uighur disiksa sampai mati di dalam penjara.
Seperti dilaporkan AFP, tuduhan-tuduhan itu muncul saat perang kata-kata kian memanas antara Pemerintah China dan mantan wanita pengusaha berumur 62 tahun itu.
China menuduh, Rebiya menghasut kerusuhan di Provinsi Xinjiang, di bagian barat laut China, baru-baru ini. Namun, tudingan tersebut dibantahnya.
Rebiya, yang kini tinggal di daerah Washington, mengatakan bahwa dia menerima sebuah faksimile dari seorang polisi Uighur yang melarikan diri ke dekat Kirgistan, dan memberikan laporan seram tentang penjara di Kota Urumqi, yang disebut Urumbay. Polisi mengatakan bahwa 196 warga Uighur telah ditahan di daerah yang diawasi ketat dan "disiksa serta dibunuh" di dalam penjara.
"Seorang di antara warga Uighur itu, bernama Erkin, menolak disiksa dan bunuh diri," ujarnya.
Rebiya, pemimpin Kongres Uighur Dunia itu mengatakan, pihaknya tak mungkin menyelidiki karena saluran telepon telah diputus. "Saya yakin bahwa secepat itu berita tersebut disiarkan, China akan mengatakan bahwa hal itu tidak benar," katanya. "Kami tak bisa membuktikan hal itu karena segala sesuatunya sudah diputus," ujarnya.
Aksi kekerasan etnis terburuk di China selama beberapa dasawarsa itu pecah pada 5 Juli di Urumqi antara suku Han China dan suku Uighur, yang berbicara dalam bahasa Turki dan sebagian besar Muslim. Sedikitnya, 197 orang tewas. Hal itu menurut perhitungan resmi.
Pemerintah China, Senin, mengatakan bahwa pihaknya akan mengadili lebih dari 200 orang karena aksi kekerasan itu. Berita-berita itu mengejek Rebiya. "Pemerintah China telah memutuskan para pengacara yang akan membela orang-orang Uighur," katanya. "Jika para pengacara itu tidak bertindak apa pun seperti yang diharapkan Pemerintah China kepada mereka, mereka juga akan menderita nasib yang sama seperti orang-orang yang diadili," ujarnya.
Rebiya, ibu 11 anak, berbicara dalam rekaman segmen jaringan kabel C-Span mengenai kenangannya, "Dragon Fighter" yang diterbitkan Mei.

