JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil survei ini mungkin bisa menjadi evaluasi bagi pemerintah yang tengah mengembangkan pembangunan rumah susun di perkotaan. Berdasarkan hasil survei Cirus Surveyor Group (CSG), 93 persen dari 500 responden menyatakan tak pernah punya keinginan untuk tinggal di rumah susun.
Responden yang disurvei merupakan penghuni perumahan di kawasan Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok. Alasan keengganan menempati rumah susun pun cukup beragam.
Peneliti CSG, Hendrawarman memaparkan, alasan paling utama adalah luas bangunan yang dinilai tidak cukup untuk jumlah keluarga (22,82 persen). Alasan lainnya, kurang leluasa bertemu tetangga (20,41 persen), kurang suka naik turun tangga (17,94), dan sulit menjadi tempat berkumpul keluarga (8,87 persen).
"Dan lebih dari 40 persen responden menyatakan tidak berencana pindah dari rumah yang ditempati saat ini," ujar Hendrawarman, pada Pemaparan dan Diskusi Survei 'Implementasi Kebijakan Perumahan bagi Masyarakat Lapisan Menengah dan Bawah', di Jakarta, Senin (24/8) sore.
Survei juga menunjukkan, sebesar 60 persen respon menyatakan tidak mengetahui adanya kebijakan subsidi pemerintah untuk membeli rumah susun. Hanya 40 persen yang tahu kebijakan tersebut.
Responden lebih memilih untuk tinggal di perumahan karena berbagai alasan. Alasan-alasan tersebut di antaranya ingin punya rumah sendiri (57,2 persen), lingkungan nyaman dan aman (12,2 persen), lokasi terjangkau dari tempat kerja (11,6 persen), dan harga dinilai lebih sesuai dengan anggaran (5,2 persen).
Direktur CSG, Andrinof Chaniago mengatakan, survei ini dilakukan untuk mengetahui cara berpikir masyarakat tentang rumah. Survei di empat lokasi tersebut dilakukan di perumahan bagi kalangan menengah ke bawah dengan luas bangunan maksimal 54 meter persegi. Total responden 500 orang adalah kepala keluarga atau anggota keluarga yang mewakili kepala keluarga.
Survei ini dilakukan dengan metode wawancara tatap muka pada 8-16 Agustus 2009, dengan tingkat keyakinan survei 95 persen dan margin of error 4,4 persen.


