
TOKYO, KOMPAS.com-Sepekan menjelang pemilu parlemen Jepang pada 30 Agustus, oposisi Partai Demokrat Jepang diprediksi menang mutlak.
Jajak pendapat oleh kantor berita Kyodo, Minggu (23/8), menunjukkan oposisi bisa meraih 300 kursi dari 480 kursi di majelis rendah.
Berbagai jajak pendapat lain juga mengunggulkan Partai Demokrat Jepang (DPJ) atas partai berkuasa, Partai Demokratik Liberal (LDP). Kendati demikian, hasil itu bisa berubah karena 30 persen pemilih belum menentukan pilihan.
Perdana Menteri Taro Aso menepis hasil jajak pendapat yang menunjukkan kekalahan partainya. ”Level dukungan bagi LDP cenderung naik. Situasi bisa berubah secara total dalam satu atau dua hari. Kami tetap akan menarik pemilih dengan kebijakan kami,” kata Aso dalam program televisi nasional di stasiun televisi NHK kemarin.
Dukungan rakyat Jepang bagi LDP terus merosot karena perekonomian yang rentan, naiknya angka pengangguran, lemahnya kepemimpinan, dan dukungan partai itu atas pajak yang lebih tinggi.
Aso juga dinilai sebagai pemimpin yang lemah dengan cenderung mengeluarkan pernyataan yang memalukan. Jajak pendapat terkini menunjukkan dukungan bagi Aso mencapai kurang dari 20 persen.
Terhadap hasil jajak pendapat oleh Kyodo, pemimpin DPJ Yukio Hatoyama menyikapi secara hati-hati. Dia mengatakan, rasa cepat puas adalah musuh utama menjelang pemilu parlemen.
”Kecenderungan ini sepertinya lebih besar dari yang sebenarnya saya rasakan. Kelihatannya terlalu bagus. Saya rasa malah tidak realistis,” ujar Hatoyama.
”Kami tidak berpuas diri sama sekali dan jika kami terlena pada pekan terakhir ini, habislah kami. Hal yang paling berbahaya adalah bersantai-santai,” lanjutnya.
Kemenangan mutlak oleh DPJ akan mengakhiri dominasi LDP dalam politik Jepang selama lebih dari 50 tahun terakhir. Kemenangan DPJ juga berarti berakhirnya kebuntuan di parlemen.
Tahun 2007, DPJ mengambil alih kekuasaan di majelis tinggi dari tangan LDP. Meskipun kekuasaan majelis tinggi tidak sebesar majelis rendah yang dikuasai LDP, DPJ bisa menunda pengesahan sebuah undang-undang sehingga memunculkan kebuntuan.
Perubahan
Analis menilai, para pemilih Jepang tampaknya menghendaki perubahan dan akan memberikan kemenangan bagi DPJ. Hal itu bertentangan dengan keberuntungan yang diperoleh LDP saat Junichiro Koizumi menang mutlak dengan mengusung tema perubahan, empat tahun yang lalu.
”Tahun 2005, tampaknya Koizumi akan menyampaikan perubahan. Sekarang, pemilih akan mencoba kembali tema perubahan itu, tetapi kali ini dengan orang yang berbeda,” kata Steven Reed, pakar dari Chuo University.
”Pemilih ingin negara menjadi lebih baik. Tidak ada yang spesifik. Itu sebuah perasaan. Pemilih sebagai massa tidak bisa berurusan dengan detail. Mereka hanya ingin yakin bahwa orang-orang itu tahu apa yang mereka lakukan,” lanjut Reed.
”Ini akan menjadi pemilu hukuman,” kata Norihiko Narita dari Surugadai University.(ap/afp/reuters/fro)