KABUL, KOMPAS.com — Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menegaskan, Amerika Serikat tak memihak dalam pemilihan umum mendatang di Afganistan dan siap bekerja sama dengan siapa pun yang dipilih oleh rakyat.
Afganistan dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada Kamis (20/8) dalam pemilihan presiden keduanya. Pemilu berlangsung saat pemerintah baru AS mengerahkan tentara tambahan ke negeri itu dengan harapan dapat mewujudkan kestabilan dan mengusir gerilyawan garis keras.
"Amerika Serikat tetap tak memihak dalam pemilihan umum ini," kata Hillary dalam satu pernyataan di Washington dan dilansir AFP. "Seperti rakyat Afganistan, kami ingin melihat pemilihan umum yang dapat dipercaya, aman, dan melibatkan semua pihak," kata Hillary.
Ia menambahkan, "Kami mengharapkan dapat bekerja sama dengan siapa pun yang dipilih rakyat Afganistan sebagai pemimpin mereka selama lima tahun ke depan."
Sewaktu meramalkan tantangan yang akan dihadapi, Hillary berkata, "Rakyat Afganistan mesti dihargai atas keberanian mereka dalam melaksanakan pemilihan umum ini kendati ada tekanan masa perang, dan kami dan masyarakat internasional bangga untuk mendukung mereka."
Presiden Hamid Karzai, yang telah memerintah negeri tersebut sejak serbuan pimpinan AS menggulingkan Taliban pada 2001, difavoritkan menang. Namun, kampanye gencar oleh mantan Menteri Luar Negeri Abdullah Abdullah dapat memaksa babak kedua pemungutan suara.
Presiden AS Barack Obama dipandang banyak pihak bersikap lebih dingin terhadap Karzai dibandingkan dengan pendahulunya, George W Bush, yang memiliki hubungan lebih hangat dengan pemimpin Afganistan itu dan sering kali berbicara dengan Karzai melalui konferensi video jarak jauh.
Para pejabat pemerintahan Obama telah mengkritik korupsi di Afganistan dan khawatir dengan persekutuan Karzai dengan gembong perang bereputasi buruk, Jenderal Abdul Rashid Dostum. Dostum, menurut laporan stasiun televisi swasta, Senin, meminta para pendukungnya mendukung Presiden saat ini, Hamid Karzai. Dukungan Dostum diyakini akan memuluskan kemenangan Karzai.
"Dostum, dalam satu pertemuan, menggambarkan Presiden Karzai sebagai orang yang cocok dan ingin para pendukungnya mendukung Presiden tersebut," demikian laporan stasiun televisi Tolo dalam buletin berita utamanya.
Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Afganistan, menurut stasiun televisi tersebut, telah menyampaikan keprihatinan mengenai kembalinya Dostum, yang telah dituduh melanggar hak asasi manusia dan melakukan pembantaian, dalam proses pemilihan umum.
Setelah berbulan-bulan hidup di Turki, Dostum pulang pada Minggu malam dan kepulangannya terjadi setelah unjuk rasa oleh suku Uzbekistan dua hari sebelumnya di Provinsi Faryab dan Jauzjan, Afganistan utara.
