Josephus Primus | Senin, 17 Agustus 2009 | 22:57 WIB
|
Share:
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Ilustrasi bencana yang mengancam manusia
KOMPAS/HARYO DAMARDONO
Jaringan Daerah Irigasi Komering di Desa Lubukharjo, Kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, Selasa (1/4), tidak teraliri air. Menurut penduduk setempat, sedimentasi di saluran bagian hulu menyebabkan saluran irigasi ini hanya berfungsi menyalurkan air ke sawah sebanyak 20 persen dalam setahun. Dengan demikian, petani hanya mendapat kepastian ketersediaan air hanya satu musim tanam dalam setahun.
Kompas/Siwi Yunita Cahyaningrum
Air irigasi yang ada di saluran irigasi induk VIII di Desa Kedongdong, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyusut tiga hari terakhir. Sepekan lalu alat pengukur masih menunjukkan angka 48 cm, tetapi, Jumat (3/7), air diperkirakan hanya tinggal 25 cm dan dasar sungai mulai terlihat. Sebagian petani yang padinya masih berusia muda mulai menyiapkan pompa air.
STOCKHOLM, KOMPAS.com - Pada 2050, Asia bakal mengalami lipat dua permintaan makanan. Soalnya, penduduk makin bertambah sementara kemampuan produksi pangan justru melorot.
Nah, ketimbang menghadapi bencana macam itu, jauh-jauh hari, Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah memberikan peringatan. Setidaknya, seperti muncul pada Senin (17/8) pada Minggu Air Dunia di Stockholm, Asia harus sesegera mungkin mereformasi pengelolaan sumber daya air.
"Asia bakal makin terlanda air limbah yang membawa kekurangan gizi," begitu pesan Direktur Jenderal Institut Pengelolaan Air Colin Chartres dalam konferensi yang dihadiri sekitar 2.500 tokoh peneliti, politisi, berikut pejabat pemerintahan.
Dalam catatan PBB, kemudian, pada 2050 pula, Asia justru mengimpor lebih dari seperempat kebutuhan bahan pangan biji-bijian.