KOMPAS
Senin, 22 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Korea Utara Peringatkan AS dan Korsel
Minggu, 16 Agustus 2009 | 15:11 WIB
shutterstock
Ilustrasi

SEOUL, KOMPAS.com — Korea Utara memperingatkan akan membalas serangan nuklir terhadap ancaman nuklir Amerika Serikat dan Korea Selatan, dalam kecaman terbaru atas latihan militer bersama kedua negara mendatang, demikian dikatakan media milik negara, Minggu (16/8).

Seorang juru bicara militer Pyongyang mengecam latihan militer yang dimulai Senin itu sebagai manuver perang nuklir terhadap Korea Utara.

"Jika imperialis AS dan kelompok Lee Myung-Bak menyerang DPRK (Korea Utara) dengan senjata nuklir, Pyongyang akan membalas terhadap mereka dengan senjata nuklir pula," kata juru bicara tersebut, merujuk pada presiden Korea Selatan.

"Jika mereka mengancam DPRK dengan rudal, Korea Utara juga akan membalas mereka dengan rudal," katanya pula.

Juru bicara tersebut menambahkan, "Kalau mereka memperketat sanksi dan mendesakkan konfrontasi sampai ke tahapan yang ekstrem, DPRK akan membalas mereka dengan balasan yang tiada ampun dengan gayanya sendiri, dan dengan perang keadilan secara habis-habisan."

Sanksi-sanksi internasional diperketat terhadap Korea Utara setelah Pyongyang melakukan peluncuran roket jarak jauh pada April lalu, dan uji coba senjata nuklir yang kedua pada Mei.

Peringatan dari Pyongyang disampikan dalam pernyataan yang dikeluarkan Sabtu oleh juru bicara tersebut, di desa perbatasan antar-Korea di Panmunjom.

Pernyataan tersebut kemudian disiarkan Minggu oleh Kantor Berita Korea Utara, KCNA. Seoul dan Washington telah membantah berencana melakukan serangan terhadap Korea Utara. Mereka mengatakan, yang mereka lakukan adalah latihan perang, dari 17-27 Agustus untuk tindakan pertahanan mereka.

Penguasa militer AS dan Korea Selatan bulan lalu menginformasikan kepada Korea Utara mengenai rencana mereka untuk mengadakan latihan militer gabungan, yang akan melibatkan 10.000 tentara AS dan sejumlah tentara Korea Selatan.

Mereka mengatakan, latihan militer tahunan Ulchi Freedom Guardian (UFG) melibatkan permainan simulasi komputer perang yang dirancang untuk meningkatan kemampuan negara sekutu dalam mempertahankan Korea Selatan dari serangan.

Kedua Korea secara teknik masih dalam keadaan perang setelah konflik 1950-53 mereka berakhir dengan gencatan senjata, bukan dengan perjanjian perdamaian.

Lebih dari 600.000 tentara Korea Selatan, didukung oleh 28.500 prajurit AS, dikirim ke bagian selatan semenanjung untuk menghadapi potensi ancaman dari Korea Utara yang militernya berkekuatan 1,1 juta tentara.

Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak menyerukan dilakukannya perundingan dengan Korea Utara yang bertujuan membersihkan semenanjung Korea dari senjata nuklir, di samping mengurangi senjata-senjata konvensional.

Penulis: BNJ   |     |   Sumber : ANT Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.