AFGANISTAN, KOMPAS.com — Sedikitnya lima polisi Afganistan tewas sesudah kelompok Taliban, termasuk pengebom jibaku, menyerang gedung pemerintah di selatan ibu kota negara itu pada Senin (10/8), kata saksi. Ledakan keras terdengar di Pul-i- Alam, ibu kota Provinsi Logar, sejam berkendaraan ke selatan Kabul, dan asap terlihat dari markas besar polisi.
Abdul Rahim, pekerja bantuan di gedung sebelahnya, menyatakan lima polisi tewas.
Helikopter tempur Amerika Serikat berputar-putar di atasnya.
Gerilyawan Taliban melancarkan serangan roket dan senapan ke kantor pemerintah provinsi dan markas besar polisi di dekat ibu kota Afganistan, Kabul, pada Senin, 10 hari sebelum pemilihan umum, kata pejabat.
Pemberontak menyasar gugus gedung pemerintah di Pul-i-Alam, 50 kilometer selatan Kabul, kata juru bicara pemerintah provinsi itu, Din Mohammad Darwish, kepada kantor berita Perancis, AFP.
Pada pukul 12.30 waktu setempat, kantor gubernur diserang roket dari jarak dekat, katanya melalui telepon. "Penyerang terkepung di dua gedung bertingkat tempat mereka terlibat baku tembak dengan pasukan keamanan. Saya tidak memiliki keterangan tentang korban saat ini," tambahnya.
Pejabat pemilihan umum Afghanistan pada Senin menyatakan pemungutan suara harus ditunda di 10 daerah, kecuali jika keamanan dapat dipastikan di tempat itu menjelang pemungutan suara pada 20 Agustus mendatang.
Pasukan keamanan Afganistan, yang didukung pasukan asing, bergerak di 35 daerah, sembilan di antaranya berada di bawah kendali pejuang hanya 10 hari menjelang pemilihan umum, kata petugas.
"Jika keamanan tidak disiapkan dan ada wilayah tidak mempunyai kendali pemerintah, panitia akan menghadapi masalah gawat," kata Zekria Barakzai, wakil kepala panitia pemilihan umum, kepada wartawan di Kabul.
Ia menyatakan, 93 tempat pemilihan umum di 10 daerah diperkirakan ditutup pada 20 Agustus, saat warga Afganistan melakukan pemilihan presiden dan pemilihan anggota dewan provinsi. "Kedudukan kami adalah bahwa jika tidak ada keamanan, pantia pemilihan umum tidak dapat hadir dan saya kira, kami dapat melakukan sesuatu, karena pemilihan umum membutuhkan lingkungan damai," kata Barakzai.
Pejabat Pertahanan menyatakan upaya besar-besaran dilakukan untuk mengusir Taliban dan pejuang lain dari kawasan itu, terutama di bagian selatan kawasan tersebut, dalam upaya memungkinkan warga mengikuti pemilihan umum di pemilihan presiden kedua negeri itu.
Daftar terakhir tentang kawasan pemungutan suara dapat berlangsung diperkirakan dikeluarkan pada 15 Agustus, kata Barakzai.
Kekerasan gerilyawan pimpinan Taliban, yang dilakukan segera setelah kejatuhannya oleh serbuan pimpinan Amerika Serikat pada akhir 2001, mencapai tingkat tertinggi pada tahun ini.
Sebagai bagian dari kampanye mereka melawan kekuatan asing pendukung pemerintah Kabul, dan tentara sekutu asingnya, gerilyawan menyeru warga Afganistan memboikot pemilihan umum dan bergabung dengan yang mereka sebut "perang suci" terhadap pasukan asing.
Kemelut di Afganistan belum berada pada titik gawat, meski gerilyawan Taliban mencapai sejumlah kemenangan, kata penasihat keamanan negara Amerika Serikat Jim Jones pada Minggu. "Saya berpendapat kita tidak berada pada tingkat kemelut berupa langkah Taliban untuk menggulingkan pemerintah," kata Jones pada acara Face the Nation di CBS.
