ABUJA, KOMPAS.com - Anggota-anggota kelompok militan utama di Delta Niger menemui Presiden Nigeria Umaru Yar’Adua, Jumat (7/8), setelah menerima tawaran amnesti namun memperingatkan bahwa kegagalan membangun wilayah penghasil minyak itu akan mengarah pada kembalinya kekerasan. Tiga puluh-dua anggota Gerakan bagi Emansipasi Delta Niger (MEND) yang dipimpin oleh ketua kelompok itu untuk negara bagian Bayelsa - Ebikabowei Victor Ben, yang dikenal penduduk setempat sebagai Boyloaf - bertemu dengan Yar’Adua di vila presiden di Abuja, ibukota Nigeria.
Ben mengatakan setelah pertemuan itu bahwa pihaknya, dengan semangat tawar-menawar adil, setuju meletakkan senjata dan berharap pihak pemerintah segera melaksanakan janji mereka. Meski demikian, ia mengingatkan, pemerintah terdahulu Nigeria telah gagal memenuhi janji mereka di delta itu, yang merupakan kawasan penghasil minyak dan gas terbesar Afrika dan tulang-punggung ekonomi di Nigeria, negara berpenduduk paling padat di benua itu.
"Penduduk kami memperoleh janji-janji di masa silam yang pada akhirnya tidak menghasilkan apa pun bagi kami, dan kami ingin percaya pemerintah ini bersungguh-sungguh... Permasalahan utama bukan mengenai membuat janji-janji manis namun melaksanakannya. Kami ingin melihat perubahan nyata dan pembangunan," kata pemimpin gerilya MEND Bayelsa itu.
Yar’Adua menawarkan amnesti 60 hari kepada orang-orang bersenjata pada Juni, dalam upaya mengendalikan kekerasan di kawasan delta penghasil minyak itu, yang telah membuat Nigeria gagal memproduksi lebih dari duapertiga minyaknya. Serangan-serangan telah membuat negara pengekspor minyak terbesar kedelapan dunia itu rugi milyaran dolar dalam setahun.
"Mengenai masalah-masalah yang meningkatkan militansi dan agitasi, kami akan mengkanji dan mengatasinya... pembangunan akan dilaksanakan dengan cepat di kawasan itu, namun itu tidak bisa dalam waktu semalam," kata Yar’Adua, dengan menjabat tangan militan-militan yang bertemu dengannya itu. Program amnesti itu, yang diberlakukan dari 6 Agustus hingga 4 Oktober, bertujuan melucuti senjata militan, mendidik dan merehabilitasi militan dan penjahat di Delta Niger. Pemerintah berharap 20.000 orang bersenjata mengambil peluang tersebut.
Sebagai bagian dari upaya amnesti itu, pemerintah pada 13 Juli membebaskan Henry Okah, seorang pemimpin MEND, setelah tuduhan terhadapnya dibatalkan. MEND menanggapi langkah itu dengan mengumumkan gencatan senjata 60 hari dalam "perang minyak" mereka.
Gerakan bagi Emansipasi Delta Niger (MEND), kelompok paling lengkap persenjataannya diantara sejumlah kelmpok pemberontak yang beroperasi di wilayah selatan penghasil minyak, mengklaim melancarkan sejumlah serangan sejak pemerintah Nigeria menawarkan amnesti pada Juni. MEND telah mendesak semua perusahaan minyak yang masih beroperasi di Delta Niger segera pergi, dengan mengancam melancarkan serangan-serangan baru.
MEND bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap perusahaan-perusahaan minyak besar yang mencakup Shell, Chevron dan Agip. Serangan -serangan terakhir itu membuyarkan harapan bahwa tawaran amnesti akan menciptakan masa tenang.
Delta Niger sejak 2006 dilanda kerusuhan oleh kelompok-kelompok bersenjata yang menyatakan berjuang untuk pembagian lebih besar dari kekayaan minyak di kawasan itu bagi penduduk setempat. Kerusuhan itu telah menurunkan ekspor minyak Nigeria menjadi 1,8 juta barel per hari, dari 2,6 juta barel tiga setengah tahun lalu.
Kelompok MEND, yang bulan Juni mengumumkan "perang minyak habis-habisan" yang bertujuan menghentikan produksi, mengakhiri gencatan senjata pada 31 Januari setelah serangan militer terhadap salah satu kamp mereka di Delta Niger, dan memperingatkan mengenai serangan besar-besaran terhadap industri minyak. MEND mengumumkan gencatan senjata pada September namun berulang kali mengancam akan memulai lagi serangan jika "diprovokasi" oleh militer Nigeria.
Militer Nigeria memulai ofensif terbesar dalam beberapa tahun ini pada pertengahan Mei, dengan membom kamp-kamp militan di sekitar Warri di negara bagian Delta dari udara dan laut dan mengirim tiga batalyon pasukan untuk menumpas pemberontak yang diyakini telah melarikan diri ke daerah-daerah sekitar. Militer menyatakan tidak bisa berpangku tangan lagi setelah serangan-serangan terhadap pasukan, pemboman pipa minyak dan pembajakan kapal minyak, yang semuanya membuat Nigeria gagal mencapai produksi penuhnya selama beberapa tahun ini.
Geng-geng kriminal juga memanfaatkan keadaan kacau dalam penegakan hukum dan ketertiban di wilayah itu. Lebih dari 200 warga asing diculik di kawasan delta tersebut dalam dua tahun terakhir. Hampir semuanya dari orang-orang itu dibebaskan tanpa cedera. Nigeria adalah produsen minyak terbesar Afrika namun posisi tersebut kemudian digantikan oleh Angola pada April tahun lalu, menurut Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
