Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 00:00 WIB
Kim Buka Jalur ke Washington
| Jumat, 7 Agustus 2009 | 07:23 WIB
|
Share:

AFP/ KCNA VIA KOREAN NEWS SERVICE
Bill Clinton saat diterima pemimpin Korea Utara Kim Jong Il (kanan), Selasa (4/8) di Pyongyang, menurut foto yang dirilis kantor berita Korut, Korean Central News Agency. Clinton terbang ke Korut guna memintakan pengampunan untuk dua jurnalis AS yang ditangkap Korut.

KOMPAS.com — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il dengan tangkas mengubah permainan soal nuklir dengan Washington. Dengan membiarkan mantan Presiden AS Bill Clinton membebaskan dua wartawan AS yang ditahan Korea Utara, Kim membuka jalur yang akan menuntun pada negosiasi baru dengan AS.

”Mereka pernah memainkan permainan ini sebelumnya. Pada saat ada ketegangan di antara kedua negara, yang dilakukan Korea Utara adalah mengeluarkan kartunya,” kata Gubernur New Mexico Bill Richardson, yang pernah menjadi utusan khusus bagi Korut, Kamis (6/8).

Dalam kasus ini, lanjut Richardson, penangkapan dua wartawan AS pada Maret lalu adalah kartu sempurna yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan kepada AS. Belum jelas pesan apa yang dibawa Clinton setelah bertemu Kim.

Akan tetapi, analis menilai, diskusi Clinton dan Kim akan memberikan kejelasan bagi Clinton soal pemikiran Korut tentang kebuntuan pembicaraan program nuklir. Clinton juga memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangannya soal situasi itu kepada Korut.

”Informasi yang didapat Clinton dari kunjungannya mungkin memiliki pengaruh pada arah kebijakan pemerintahan saat ini kepada Korut,” kata Scott Snyder, ahli soal Korut, dalam komentar yang dimuat di situs Dewan Urusan Luar Negeri AS.

Hati-hati

AS memiliki alasan bagus untuk melangkah dengan hati-hati. Korut memiliki riwayat setuju untuk menghentikan program nuklir, tetapi tiba-tiba mengubah haluan.

Kim, yang kepemimpinannya dibayangi masalah kesehatan, tidak menyembunyikan kepuasannya saat menerima Clinton. ”Bagi dia, ini adalah isyarat gengsi,” kata Ralph Cossa, Presiden Center for Strategic and International Studies (CSIS) Forum Pasifik.

Bukan hanya itu, Kim kini bisa merasa memiliki posisi yang lebih baik untuk maju terus dengan negosiasi. Dia juga bisa mengumpulkan ”hadiah” yang dijanjikan kepadanya dalam bentuk bantuan, pengiriman bahan bakar, dan konsesi politik, terutama dari AS, Korea Selatan, dan Jepang.

Tujuan besar Kim adalah negara yang didirikan sang ayah, Kim Il Sung, dan akan diserahkan kepada putranya, Kim Jong Un, bisa bertahan. Namun, kali ini Kim mulai kehabisan waktu karena dia diyakini terkena stroke tahun lalu, sementara putranya yang baru berusia 26 tahun belum cukup kuat untuk membuat kesepakatan sendiri.

Kim juga menghadapi dilema karena AS tampaknya tidak akan bersedia merangkul dia sampai Kim membuat tindakan nyata untuk mematikan program nuklirnya. Obama, setelah pembebasan kedua wartawan, tetap menyerukan agar Korut menghentikan program nuklir dan tidak melakukan ”tindakan provokatif” jika ingin berhubungan lebih baik dengan Washington. (ap/afp/fro)

 

Sumber :
Kompas Cetak
Rabu, 23/05/2012 14:13 WIB

Yaman di Ambang Krisis Pangan

Rabu, 23/05/2012 10:47 WIB

Sepertiga Obat Malaria di Dunia Palsu