JAKARTA, KOMPAS.com — Penguatan rupiah terhadap mata uang asing terutama dollar AS sejak akhir pekan lalu dinilai akibat adanya perbaikan ekonomi global. Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono, Senin (27/7).
"Memang, penguatan nilai rupiah dipengaruhi global, dan karena optimisme dari perbaikan ekonomi global timbul lagi setelah data AS menunjukkan perbaikan," kata Hartadi.
Diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat sejak akhir pekan ini hingga di bawah Rp 10.000. Hari ini, tercatat nilai tukar rupiah mencapai Rp 9.978. Menurut Hartadi, bila kondisi global semakin membaik, maka kondisi rupiah juga akan menguat. Pasalnya, perbaikan ekonomi global juga mendorong perbaikan perdagangan di Indonesia.
"Indonesia suplier barang-barang ekspor kita, material, dan kalau itu demand meningkat Indonesia bisa ekspor, tambah devisa memperkuat nilai tukar," tuturnya.
Lebih jauh, Hartadi optimistis kondisi global ke depan akan terus membaik. Hal ini terlihat dari data terakhir AS yang menunjukkan ada perbaikan ekonomi pada semester II/ 2009. "Negara lain di dunia melakukan hal yang sama, begitu juga dengan Indonesia," ujarnya.
Namun, ia juga tidak berani menjamin bahwa nilai tukar rupiah akan terus berada hingga di bawah Rp 10.000 karena banyak indikator yang memengaruhi penguatan rupiah.

