WASHINGTON, KOMPAS.com — Departemen Pertahanan Amerika mengatakan tidak akan melarang tentara Amerika merokok di medan perang.
Keputusan ini diambil meski satu penelitian merekomendasikan agar militer Amerika harus bebas rokok.
Juru bicara Pentagon, Geoff Morrell, Kamis (16/7), mengatakan bahwa tentara Amerika sudah banyak berkorban di Iran dan Afganistan. Dia mengatakan bahwa Menteri Pertahanan AS Robert Gates tidak mau menambah stres para tentara dengan mencabut hak mereka untuk merokok.
Namun, Morrell mengatakan, Pentagon akan mengkaji penelitian ini untuk mencari jalan lain dalam upaya membuat militer bebas rokok. Dia mengatakan, "Tentu saja, kami tidak ingin memiliki pasukan yang mempergunakan produk rokok."
Satu laporan yang dibuat oleh Pemerintah AS menunjukkan bahwa militer negara itu harus bebas rokok dalam 20 tahun. Institut Medis, IOM, mengatakan, 30 persen personel militer adalah perokok, yang menyebabkan biaya ekonomi dan kesehatan yang sangat tinggi. Namun, berdasarkan laporan itu, diakui bahwa sangat sulit melakukan perubahan karena merokok "sejak lama diasosiasikan dengan citra pahlawan jantan dan berani".
Pentagon mengatakan mendukung usul ini dan yakin rekomendasi itu bisa dicapai. Laporan, yang didanai oleh Pentagon dan Departemen Urusan Veteran AS, VA, mengatakan, Pentagon mengeluarkan dana miliaran dollar AS setiap tahun untuk perawatan kesehatan, rumah sakit, dan tidak masuk kerja akibat kebiasaan merokok.
Laporan ini menyebut, tingkat merokok di militer naik sejak tahun 1998, dan bisa mencapai 50 persen di kalangan personel yang baru pulang dari tugas di Irak dan Afganistan.


