Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 05:03 WIB
Survei Nielsen: Iklan Politik Mendominasi Media
Leo Sunu | Kamis, 16 Juli 2009 | 17:19 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Perhelatan pemilu nasional, mulai dari pemilu legislatif sampai dengan pemilu presiden 8 Juli, tampaknya ikut memberikan keuntungan bagi industri media dan periklanan. Hal ini terungkap dalam rilis hasil advertising information service yang dilakukan Nielsen Media, Kamis (16/7) di Mayapada Tower Jakarta. 

Iklan kategori pemerintahan dan politik melonjak drastis mencapai 173 persen pada semester pertama tahun 2009. Meningkat jauh dari semester pertama tahun 2008 yang hanya 783 spot menjadi 2.154 spot pada semester pertama tahun ini. 

Menurut Ika Jatmikasari Associate Director Nielsen Media, peningkatan ini disebabkan adanya pemilu legislatif dan pemilu presiden yang tentu saja membutuhkan iklan dan media sebagai alat kampanyenya.

Sementara pengiklan di urutan kedua adalah dari industri telekomunikasi, meskipun turun sebesar 11 persen. 

"Sepertinya para pelaku telekomunikasi berusaha menahan diri untuk tidak beriklan sepanjang pelaksanaan pileg dan pilpres ini," kata Ika.

Dalam studi ini, Nielsen Media mengklaim cakupan penelitian hanya dilakukan pada media koran, televisi, dan majalah-tabloid. Pada koran mencapai 102 media, pada televisi 23 stasiun, dan majalah-tabloid 163 media. Dilakukan dengan berdasarkan publish rate card, dan tidak memasukkan iklan baris sebagai salah satu variabelnya.

Media Index juga menunjukkan televisi masih menjadi medium favorit bagi para pengiklan untuk memasarkan produknya. Televisi menguasai 59 persen iklan pada semester pertama tahun ini. Sementara koran dan kategori tabloid-majalah, masing-masing 37 persen dan 4 persen.

Lebih lanjut, Media Index ini juga menunjukkan pasangan SBY-Boediono menjadi pasangan capres yang paling banyak beriklan di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Iklan capres incumbent ini mencapai 5.705 spot. Sementara di bawahnya, tidak terpaut terlalu jauh, pasangan JK-Wiranto yang beriklan sebanyak 5.066 spot. Terakhir pasangan Mega-Pro yang hanya memasang iklan sebanyak 1.879 spot.

"Jika berpatokan pada hasil quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menempatkan SBY-Boediono sebagai capres terunggul saat ini, terlihat jelas ada korelasi dengan banyaknya pasangan ini beriklan," tegas Ika.

Namun, menurut Ika, patut diperhatikan hal berbeda justru terjadi pada pasangan JK-Wiranto. Meskipun berada di peringkat kedua dalam banyaknya iklan, tetapi perolehan suaranya paling sedikit dalam pilpres ini.

Melihat pola iklan ini sepanjang masa pileg dan pilpres ini, Ika menilai ada kecenderungan para pengiklan cenderung mengalah oleh kegiatan iklan yang dilakukan para elite politik dan pasangan capres. Namun Ika memprediksikan, memasuki paruh kedua tahun ini industri-industri tersebut akan kembali beriklan seiring dengan meredanya situasi politik nasional.