TEHERAN, KOMPAS.com — Beramai-ramailah menuding sanksi yang dibuat Abang Sam (AS) sebagai biang kerok kecelakaan pesawat terbang! Paling gres, tentunya, kecelakaan pesawat Tupolev (Tu) 154M milik maskapai penerbangan Caspian Airlines, Rabu (15/7), di dekat Desa Jannatabad, pinggiran kota Qazvin, sekitar 75 mil barat daya Teheran. Dilihat dari puing-puingnya, patut diduga ke-153 penumpang berikut 15 awak pesawat yang tengah melayani rute Teheran di Iran ke Yerevan di Armenia tewas.
Menurut catatan pihak otoritas penerbangan sipil Iran, kecelakaan udara ini adalah yang terburuk sejak enam tahun silam. Mungkin, bisa disamakan dengan Indonesia, Iran pun acap mengalami kecelakaan pesawat terbang. Biasanya, yang dituding adalah lemahnya perawatan plus pemeliharaan.
Kendati begitu, secara resmi Iran pun menyalahkan sanksi embargo yang dibuat AS sejak 1979 sebagai penyebab berbagai kecelakaan pesawat terbang di negara itu. Soalnya, embargo sejak Revolusi Islam Iran itu membuat maskapai penerbangan Iran kesulitan memperoleh suku cadang pesawat-pesawatnya. Kebanyakan, waktu itu, Iran membeli pesawat dari Eropa dan AS.
Kemudian, mengetahui efek pahit dari sanksi tersebut, maskapai penerbangan dan pihak militer Iran berpaling ke Rusia. Alasannya, meski di Eropa, Rusia tak begitu terjamah sanksi AS.
Jadilah, Rusia menjadi pemasok pesawat terbang bagi Iran. Sayangnya, justru burung besi bikinan Negeri Beruang Merah pulalah yang acap "mencium bumi" dan mencabut nyawa banyak orang. Dalam dekade ini, misalnya, dua kecelakaan pesawat sipil Tupolev sudah merenggut 140 nyawa.
Kenyataannya, tak cuma Tupolev yang pernah mengalami kecelakaan di wilayah Iran. Pada Februari 2003, pesawat Ilyushin 76, buatan Rusia pula, yang tengah mengangkut pasukan elite Garda Revolusi, jatuh di pegunungan kawasan tenggara Iran. Insiden itu menewaskan 302 penumpang.
Lalu, pada Februari 2006, maskapai penerbangan Iran, Airtour, kehilangan sebuah varian Tu 154 yang gagal mendarat di Bandar Udara Teheran. Dari 148 penumpang, 29 orang di antaranya meninggal dunia.
Sebenarnya, empat tahun sebelum tragedi 2006, Iran Airtour juga mesti merelakan sebuah Tu 154-nya hancur di pegunungan bagian barat Iran. Saat itu, 199 penumpang tewas.
Pada bagian lain, militer Iran juga tak luput dari Sang Maut. Pada Desember 2005, 115 tentara mesti dikebumikan gara-gara pesawat Hercules C 130 buatan AS luluh lantak menghantam gedung di dekat Bandara Mehrabat, Teheran.
Kemudian, pada 2007, Iran pun mesti kehilangan 36 anggota Garda Revolusi karena pesawat yang mereka tumpangi justru mengalami kecelakaan saat tinggal landas.