
KOMPAS.com-Riwayat kekuasaan Partai Demokratik Liberal selama lebih dari lima dekade di Jepang tampaknya akan mendekati akhir. Para analis melihat masa depan suram bagi LDP menyusul kekalahan di pemilu lokal Metropolitan Tokyo, Minggu (12/7).
Pemilih beralih mendukung oposisi, Partai Demokrat Jepang (DPJ), yang berjanji mengambil jalan tengah antara negara kesejahteraan dan sistem pasar bebas, menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, serta mengurangi kekuasaan birokrat.
Pada pemilu Minggu, DPJ meraih 54 kursi dan menjadi partai terbesar di Dewan Kota Tokyo. Partai Demokratik Liberal (LDP) mendapat 38 kursi, sementara mitra koalisinya, New Komeito, mendapat 23 kursi. Jumlah itu tidak cukup untuk mendapat suara mayoritas sebanyak 64 kursi. Sebanyak 12 kursi lain dimenangi kandidat independen dan oposisi lain.
Pemilu di Tokyo dipandang sebagai barometer dari pemilu nasional. DPJ menyatakan akan mengajukan mosi tidak percaya kepada Aso di parlemen.
Hasil itu, menurut surat kabar Asahi Shimbun, menunjukkan bahwa pemilih memiliki harapan akan perubahan di pemerintahan. Surat kabar Yomiuri Shimbun menyebutkan, kekalahan itu akan semakin gencar menyulut seruan dari dalam LDP kepada Perdana Menteri Taro Aso untuk mundur. Popularitas Aso merosot tajam, di bawah 20 persen, menyusul serangkaian skandal dan ketidakpuasan rakyat soal respons pemerintah terhadap resesi.
”Kita tengah melihat fase akhir Partai Demokratik Liberal. Ini menunjukkan terbatasnya kekuasaan partai tunggal,” kata Jiro Yamaguchi, pakar politik pada Hokkaido University.
LDP berkuasa hampir terus-menerus di Jepang sejak tahun 1957, kecuali periode 10 bulan pada awal 1990-an. LDP memiliki hubungan dekat dengan perusahaan-perusahaan besar Jepang, birokrasi negara yang kuat, dan dukungan kuat dari wilayah pedesaan Jepang. Kelebihan itu membuat LDP tak terkalahkan dalam pemilu selama ini.
LDP menang mutlak dalam pemilu majelis rendah tahun 2005 di bawah pemerintahan PM Junichiro Koizumi. Sejak Koizumi turun, LDP menderita kekalahan demi kekalahan. Yang terbesar adalah tahun 2007 saat LDP kalah pada pemilu majelis tinggi.
”Kita akan melihat kemenangan mutlak oposisi. LDP mungkin akan jatuh,” kata Masami Kodama, pakar politik pada Kurume University.
Pemilu dini
Menyusul kekalahan dalam pemilu di Tokyo, PM Aso, Senin, menyatakan pemilu nasional akan digelar pada 30 Agustus. Seharusnya pemilu nasional tidak diadakan sebelum 20 Oktober. Sekretaris Jenderal LDP Hiroyuki Hosoda mengatakan, majelis rendah akan dibubarkan pada pekan depan.
Mantan Menteri Dalam Negeri Kunio Hatoyama kemarin mengatakan, keikutsertaan LDP dalam pemilu di bawah Aso ”hampir sama dengan bunuh diri massal”.
Namun, analis menilai, menyingkirkan Aso pun tidak akan ada bedanya bagi LDP. ”Sudah terlambat untuk melakukan apa pun. Mereka hanya bisa menuju kekalahan. Tidak akan ada gunanya meskipun mereka mengganti wajah pemimpinnya,” kata Takayoshi Shibata, guru besar emeritus politik pada Keizai University.
”Jika segala sesuatu tetap seperti ini, tentu ini akan menjadi kekalahan besar. Fokusnya sekarang adalah siapa yang bisa mengubah situasi dan LDP kesulitan meyakinkan rakyat bahwa mereka bisa melakukan perubahan,” ujar Katsuhiko Nakamura, Direktur Penelitian pada lembaga pemikir Asian Forum Japan.
Kemenangan oposisi dalam pemilu akan memuluskan pelaksanaan kebijakan karena membuka kebuntuan di parlemen. Sejak berhasil mengambil alih majelis tinggi, DPJ bisa menunda rancangan undang-undang sehingga menyebabkan kebuntuan di parlemen.
DPJ sama sekali belum pernah menjalankan pemerintahan. Partai ini masih memerlukan perubahan besar dalam dukungan pemilih. Pemimpin oposisi, Yukio Hatoyama, sangat mungkin menggantikan Aso. Dia mengatakan, ini saatnya bagi era baru politik Jepang. (ap/afp/reuters/fro)