
Oleh Fransisca Romana
KOMPAS.com — Julukan ”Wanita Besi” memang layak disandang Dalia Grybauskaite. Dikenal keras dalam bicara dan sikap, Grybauskaite kini dipercaya menjadi perempuan presiden pertama Lituania. Rakyat berharap, Grybauskaite bisa membawa Lituania keluar dari krisis ekonomi terburuk di Uni Eropa.
Grybauskaite dilantik pada Minggu (12/7) setelah menang dalam pemilu 17 Mei 2009 dengan perolehan 68,18 persen suara. Ia mengalahkan lima kandidat lainnya. Perolehan itu tercatat sebagai yang terbesar sepanjang penyelenggaraan pemilu presiden di Lituania.
Grybauskaite tak punya banyak waktu untuk merayakan kemenangannya. Di depan mata, menanti dampak krisis perekonomian yang menyebabkan angka pengangguran naik drastis dari 4 persen pada 2008 menjadi 15 persen pada tahun ini.
Pertumbuhan ekonomi Lituania pun diperkirakan merosot lebih dari 10 persen setelah tumbuh pesat sejak bergabung dengan Uni Eropa pada 2004.
Grybauskaite yang sudah yatim piatu itu memutuskan untuk maju setelah pecah kerusuhan di luar gedung parlemen pada Januari karena publik marah terhadap situasi perekonomian Lituania.
Perempuan lajang ini mengkritik Partai Sosial Demokrat, yang kalah pada pemilu tahun lalu, gagal mengambil keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan gagal pula mempersiapkan diri menghadapi resesi.
Selama kampanye, Grybauskaite menekankan perlunya memerangi persoalan keuangan dengan melindungi mereka yang berpendapatan rendah, menyederhanakan aparat birokrasi Lituania, dan meninjau ulang program investasi pemerintah.
Ia berjanji, euro bisa diadopsi di Lituania pada tahun pertama pemerintahannya. Menurut pandangan Grybauskaite, ia terpilih sebagai perempuan presiden pertama karena banyak warga Lituania tidak lagi percaya kepada politisi arus utama.
Dia maju sebagai calon presiden independen meskipun mendapat dukungan dari partai berkuasa, Partai Konservatif. ”Saya seorang independen. Ini memberi harapan bagi rakyat, saya akan memperlakukan semua orang sama,” katanya.
Ban hitam karate
Adu argumen dengan Partai Sosial Demokrat sepanjang tahun lalu kian menegaskan reputasi Grybauskaite sebagai ”Wanita Besi”. Tidak ada politisi yang dianggap senior untuk menjadi sasaran kritiknya.
Tidak hanya di panggung politik, reputasi ”Wanita Besi” juga dia dapatkan karena memegang ban hitam karate.
Idola Grybauskaite tak lain adalah penyandang julukan ”Wanita Besi” yang asli, mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Mahatma Gandhi juga menjadi model politik Grybauskaite karena pelayanannya yang tulus bagi orang lain. ”Saya suka berterus terang dan blak-blakan, mungkin kadang keterlaluan. Saya katakan apa yang ada di pikiran dan tak semua orang menyukainya,” ujarnya soal reputasi itu.
”Saya percaya transparansi dan menuntut kualitas itu dari siapa saja. Saya tak akan menghargai pembohong dan mereka yang lambat,” katanya. Meskipun didukung partai berkuasa, Grybauskaite memperingatkan bahwa dia juga mengawasi pemerintah. Dia telah menyatakan tidak terkesan dengan kinerja lima menteri di kabinet dan bermaksud mengganti mereka.
Analis politik mengaitkan kemenangan mudah Grybauskaite dengan kompetensinya di bidang finansial dan kemampuannya menghindari skandal domestik. Sebelum terpilih sebagai presiden, dia menjabat sebagai Komisaris Program Keuangan dan Anggaran Uni Eropa (UE).
Anggaran UE tak luput dari kritiknya. Baginya, anggaran UE bukan anggaran untuk abad XXI karena mayoritas dibelanjakan untuk program pertanian. Dia menyodorkan anggaran untuk pertama kalinya dalam sejarah UE, dengan kondisi belanja pertumbuhan dan tenaga kerja melebihi program pertanian dan sumber daya alam.
Separuh gaji
Bagi Lituania, Grybauskaite punya rencana untuk menyusun kebijakan guna menstabilkan keuangan publik, menstimulasi ekspor, menyerap bantuan UE lebih cepat, serta menyediakan potongan pajak bagi usaha kecil dan menengah.
”Anggaran yang dibuat terlalu optimistis dan harus direvisi secepatnya. Kita harus menghemat,” ujar Grybauskaite.
Dia memulai penghematan itu dengan menyatakan hanya akan mengambil separuh gajinya sebagai presiden yang mencapai 120.000 dollar AS per tahun (sekitar Rp 1,2 miliar).
Lahir di Vilnius, ibu kota Lituania, pada 1 Maret 1956, Grybauskaite menganggap dirinya tidak berada di jajaran siswa terbaik. Dia fasih berbicara dengan bahasa Inggris, Rusia, Polandia, dan Perancis. Pada usia 11 tahun, dia mulai mengambil bagian di dunia olahraga sebagai pemain basket. Dia juga pernah bergabung dengan Lithuanian National Philharmonic sebagai staf inspektur.
Grybauskaite belajar ekonomi di Leningrad, kini St Petersburg, Rusia. Setelah Lituania lepas dari Uni Soviet pada tahun 1990-an, dia kembali ke Lituania dan melanjutkan studi di Universitas Georgetown, AS. Dia lalu bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan pembantu politisi yang bertanggung jawab atas pembangunan hubungan ekonomi Lituania dan bernegosiasi dengan UE.
Pada 1999-2000, dia ditunjuk menjadi wakil menteri keuangan, lalu menjadi wakil menteri luar negeri, dan menjadi menteri keuangan. Kini, Grybauskaite akan membuktikan bahwa reputasi yang disandangnya memang diperlukan bangsa dan negaranya. (AP/AFP)