MALANG, KOMPAS.com — Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang saat ini merawat tiga pasien suspect flu babi atau H1N1. Mereka dirawat di ruang isolasi flu burung RSSA Malang sejak akhir pekan lalu.
Saat ini ketiga pasien yang masih satu keluarga itu harus menjalani serangkaian tes darah dan uji laboratorium untuk memastikan penyakit yang diderita. Mereka juga jalani diagnosis pembanding untuk kasus demam berdarah karena mengalami gejala trombosit dan leukosit menurun.
Ketiga pasien yang kami rawat ini adalah seorang anak perempuan (berinisial E berusia 18 tahun), ayah (berinisial BW berusia 50 tahun), serta ibunya (berinisial ES berusia 40 tahun). Mereka mengeluh sakit panas, batuk, dan nyeri telan, serta agak sesak. Dalam rapid test, sang ayah dinyatakan positif influenza tipe A. Ditambah sebelumnya, sang anak sekitar dua minggu lalu baru pulang dari Amerika, dan satu pesawat dengan orang yang diduga terkena flu babi. "Untuk itu langsung saja mereka dinyatakan suspect flu babi dan harus dirawat di ruang isolasi sambil menunggu hasil observasi lebih lanjut," tutur Ketua Tim Penanganan Flu Babi RSSA Malang, Dr HA Gatoet Ismanoe SpPD KPTI, Senin (13/7) di Malang.
Teman E, yang juga menjalani pertukaran pelajar yang sama ke Amerika, menurut Gatoet, saat ini juga dirawat di RSUD dr Sardjito Yogyakarta (seorang), dan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (dua orang) dengan kondisi sama.
Saat ini, menurut Gatoet, ketiganya menjalani prosedur perawatan seperti penderita avian influenza (AI) seperti sebelum-sebelumnya. "Sesuai anjuran World Health Organization (WHO) mereka harus mengonsumsi tamiflu 2 x 75 miligram per hari, diobservasi dan menjalani tes laboratorium hingga diperoleh kepastian penyakit yang menyerang ketiganya," ujar Gatoet.
Observasi diperkirakan memakan waktu tujuh hari. Saat itu diperkirakan pemeriksaan virulogi H1N1 sudah keluar.
Namun, kondisinya saat ini membaik. Dari panas tubuh 38 derajat celsius saat masuk ke RSSA, saat ini panas badannya sudah turun menjadi 36 derajat celsius. "Juga terjadi penurunan leukosit dan trombosit. Sehingga harus dilakukan diagnosa pembanding untuk kasus demam berdarah," tutur Gatoet.

