Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 12:30 WIB
Satu Lagi Warga Denpasar Dilarikan ke Sanglah
Robertus Benny Dwi K. | Senin, 13 Juli 2009 | 16:28 WIB
|
Share:

DENPASAR, KOMPAS.com — Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, kembali merawat seorang warga Bali dengan menunjukkan gejala influenza like illness, Senin (13/7). Dinas Kesehatan Bali meneliti lebih jauh asal-usul maupun sejarah pasien itu untuk mengambil kesimpulan belum sudahnya virus influenza A-H1N1 beredar di Pulau Dewata.

Pasien terakhir yang menghuni ruang Nusa Indah di Sanglah adalah MS (49), warga Kota Denpasar. Ia dilarikan ke Sanglah dengan gejala demam tinggi di atas 37,8 derajat celsius, pilek disertai batuk, kemarin sekitar pukul 11.30 Wita. Dengan gejala-gejala itu, ia langsung dinyatakan sebagai pasien terduga influenza A-H1N1.

Ia bergabung dengan enam pasien terduga influenza A-H1N1 yang masih dirawat. Dari enam pasien itu, tiga di antaranya adalah warga negara Indonesia, bahkan dua orang adalah warga Bali, yakni WI (30) warga Seminyak, Kuta, Badung, YP (30), warga Jimbaran, Badung, serta RI (33), wisatawan asal Jakarta. Tiga pasien lainnya adalah WN asing, yakni Richard Lochner (40) asal New Zealand, Michaela Partin (19) dari Amerika Serikat, dan Steven Carruthers (22), warga Australia.

Kepala Dinas Kesehatan Bali Nyoman Sutedja menyatakan tidak mau gegabah menyebut bahwa virus influenza A-H1N1 sudah beredar di Bali. Selain status para pasien itu masih terduga sehingga harus dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan laboratorium Litbangkes Jakarta, sejarah pasien pun harus dipastikan.

Khusus untuk pasien WI, sudah lama di Australia karena bersuamikan orang sana. "Ia pun baru pulang dari Negeri Kangguru itu, jadi dugaan kuat misal ia terpapar virus H1N1, ia terpapar di sana," kata Sutedja.

Sutedja menyatakan, otoritas RSUP Sanglah dan Dinas Kesehatan Bali masih meneliti lebih jauh kegiatan pasien YP, RI, dan MS. Khusus untuk YP dan M S, misalnya, mencakup jenis pekerjaan, kegiatan dalam kurun waktu sepekan terakhir, serta siapa yang ditemui secara langsung.

"Kalau mereka kerja di perhotelan, atau terkait langsung dengan aktivitas wisatawan mancanegara, mungkin saja kemungkinan tertular itu ada atau virus sudah menyebar. Tapi, bagaimanapun kita terutama menunggu pemeriksaan laboratorium Litbangkes tentang status mereka," kata Sutedja.