KULON PROGO, KOMPAS.com - Persediaan obat tamiflu belum merata di puskesmas-puskesmas Kulon Progo. Padahal obat tersebut penting untuk menangani kemungkinan terjadinya kasus flu babi yang kini marak mewabah di berbagai daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Lestaryono, Senin (13/7) mengaku sudah mendistribusikan obat tamiflu secara teratur ke seluruh puskesmas sejak flu burung merebak di tahun 2007. Stok obat selalu diperbarui setiap tahun sesuai dengan masa kedaluwarsanya.
Pada kenyataannya, belum semua puskesmas menerima obat tamiflu. Di Puskesmas Wates, misalnya, sudah enam bulan terakhir stok tamiflu kosong. Stok tamiflu terakhir telah dikembalikan ke dinas kesehatan Februari lalu karena sudah mendekati tanggal kedaluwarsa.
Bulan ini, Kepala Puskesmas Wates Hunik Rimawati sudah mengajukan permohonan tamiflu. "Kebetulan bulan Juli akan ada drop obat dari dinas kesehatan dan kami sudah meminta stok tamiflu ditambah. Jumlah yang kami minta tidak banyak, sekitar dua boks isi 200 tablet," demikian ujar Hunik.
Sementara itu di Puskesmas Sentolo I stok tamiflu masih cukup. Menurut Kepala Puskesmas Sentolo I Sandrawati Said, pihaknya masih menyimpan tamiflu sebanyak 40 boks. Sekitar 30 boks di antaranya akan kedaluwarsa bulan November 2009 dan sisanya kedaluwarsa Juni 2010.
Lebih lanjut, Lestaryono mengatakan bahwa stok tamiflu yang diberikan kepada puskesmas sifatnya hanya antisipasi. Apabila ada warga yang diduga menderita flu burung atau flu babi, maka dinas kesehatan segera merujuknya ke Rumah Sakit Panembahan Senopati di Bantul atau dr. Sardjito Yogyakarta. "Rumah Sakit Daerah Wates belum mampu merawat pasien terduga flu burung atau flu babi karena peralatan medis yang dimiliki belum cukup lengkap," tambahnya.
Ia juga mengatakan kemungkinan penyakit flu babi akan menular di Kulon Progo cukup kecil karena virus H1N1 datang dari luar negeri. Warga yang tertular virus tersebut pasti sudah terdeteksi di bandara atau pelabuhan internasional.
Flu babi sendiri bisa disembuhkan dengan pengobatan teratur dan intensif, serta menjaga perilaku hidup sehat. Lestaryono mengatakan tingkat kemungkinan kematian akibat flu babi amat kecil, sekitar 4-6 persen. Berbeda dengan flu burung yang mencapai 60 persen. Sejauh ini belum ada kasus flu babi di Kulon Progo.
Terpisah, Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kulon Progo Sabar Widodo mengatakan pihaknya mengantisipasi penularan flu babi dengan meningkatkan pengawasan kesehatan dan kebersihan peternakan babi. Di Kulon Progo, lokasi peternakan babi berada di Kecamatan Kalibawa ng, Nanggulan, dan Temon. Pemerintah daerah juga sudah membagikan vaksin gratis bagi ternak babi yang kondisinya kurang sehat.

