Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 11:44 WIB
Mousavi Dijuluki Agen AS
| Senin, 6 Juli 2009 | 09:35 WIB
|
Share:

(AP)
Foto citizen yang diambil pada 28 Juni 2009 ini merekam gambar seorang pendukung pemimpin pro-reformasi Mir Hossein Mousavi yang mengacungkan tanda victory di antara kerumunan orang dekat Masjid Ghoba, Teheran, Iran

TERKAIT:

KAIRO, KOMPAS.com — Penasihat politik Pemimpin Spiritual Iran Ali Khamenei yang juga pemimpin redaksi koran konservatif Kayhan, Hossein Shariatmadari, Sabtu (4/7), menuduh Mir Hossein Mousavi sebagai agen Amerika Serikat.

 

Dia juga meminta Mousavi dan mantan Presiden Iran Mohammad Khatami diajukan ke meja hijau dengan tuduhan melakukan pengkhianatan besar.

Kubu reformis dan konservatif terus terlibat dalam polemik politik. Dewan Garda Konstitusi hari Senin lalu telah memenangkan Mahmoud Ahmadinejad pada pemilu 12 Juni lalu.

Sebelumnya, dalam khotbah Jumat, Ketua Dewan Garda Ayatollah Ahmed Jannati menyebut tokoh-tokoh reformis sebagai pembangkang. Kata ”pembangkang” merupakan kata buruk di Iran yang biasa digunakan sebagai tuduhan terhadap para pengkritik revolusi di dalam negeri.

”Mereka (kubu reformis) tidak mengakui konstitusi dan para pejabat yang menegakkan konstitusi. Apa yang mereka kejar? Bukankah ini menunjukkan sikap antipemerintah?” kata Jannati.

Shariatmadari pada editorialnya di koran Kayhan menuduh Mousavi telah membunuh orang-orang tak berdosa, melakukan provokasi agar massa melancarkan aksi kerusuhan, menggunakan preman untuk menyerang warga, dan bekerja sama dengan pihak asing. Ia juga menuduh Mousavi membangun konspirasi dengan AS, Uni Eropa, dan Israel untuk melawan Iran.

Ia menegaskan, partai yang akan didirikan Mousavi dan para kolega politiknya akan dianggap ilegal dan mengancam keamanan nasional.

Shariatmadari dalam editorial itu juga mengklaim, ada dokumen dan bukti bahwa kerusuhan politik pascapemilu mendapat pengarahan dari luar. Disebutkan, semua tindakan dan ucapan kubu reformis senada dengan pernyataan para pejabat AS.

Shariatmadari juga meminta mantan Presiden Khatami diadili karena membantu Mousavi dalam kampanye pemilu serta merupakan tokoh kunci kerusuhan.

Shariatmadari adalah pengkritik keras Mohammad Khatami dan adik kandungnya, Reza Khatami (pemimpin Front Partisipasi, salah satu tulang punggung kekuatan kubu reformis).

Setelah jabatan Khatami sebagai presiden berakhir pada 2005, Shariatmadari mengatakan, Khatami telah memerintah Iran dengan pola yang mengancam prinsip revolusi Islam.

Mantan Menteri Luar Negeri pertama Iran pada masa pemerintahan PM Mehdi Bazarkan pada masa awal revolusi, Ebrahim Yezdi, dalam wawancara dengan harian berbahasa Arab, Asharq Al Aswat, menolak tuduhan Shariatmadari dan Ayatollah Jannati itu. Yezdi mengungkapkan, kubu reformis masih terus membahas cara keluar dari krisis secara terbuka.

Ia menegaskan, kubu reformis bergerak dalam koridor institusi. Ia membantah kubu reformis bergerak dengan emosional. ”Kami bukan kaum fanatik. Pernyataan Shariatmadari dan Jannati menunjukkan kubu konservatif adalah kelompok fanatik,” ujar Yezdi.

Ia menegaskan, meski kubu konservatif mampu membungkam para pengunjuk rasa, persoalan Iran belum berakhir.

Yezdi mengungkapkan, tuduhan konservatif bahwa kubu reformis adalah agen asing bukan hal baru.

Menutupi kesalahan

”Mereka melempar kesalahan kepada orang lain untuk menutupi kesalahan sendiri. Jika mereka menuduh ada 4 atau 5 pegawai di Kedutaan Besar Inggris terlibat dalam perencanaan dan berperan dalam kerusuhan, itu jelas merupakan pelemparan kesalahan kepada orang untuk menutupi kegagalan selama 30 tahun berkuasa di Iran,” lanjut Yezdi.

Aktivis proreformis, Ali Reza Baheshti, meminta parlemen mengubah hasil pemilu. ”Rakyat berharap parlemen bisa mewakili aspirasi, bukan membela otoritas dengan segala cara,” katanya.

Ali Reza Baheshti adalah putra bungsu pakar hukum Iran yang juga tokoh revolusi, Ayatollah Muhammad Hossein Baheshti, yang tewas dalam serangan bom di gedung parlemen tahun 1981. Serangan bom yang dilakukan kelompok kiri Marxist Mujahidin Khalq itu menewaskan 72 anggota parlemen dan pejabat tinggi Iran. Pemimpin Spiritual Iran Ali Khamenei saat itu juga berada di gedung parlemen, tetapi ia selamat walau salah satu tangannya luka parah dan kurang berfungsi baik hingga saat ini.

Ketua Dewan Pakar yang juga Ketua Dewan Penentu Kemaslahatan Pemerintah Hashemi Rafsanjani menyatakan, kerusuhan yang terjadi pascapemilu menyakitkan. (mth)

Sumber :
Kompas Cetak